Perpanjangan Penerimaan MABA Gel. I TA. 2018/2019 Pascasarjana UIN Suska Riau 14 Agustus 2018 s.d 27 Agustus 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
POLIGAMI ITU BERBAGI
Mahasiswa : Agus Nurcholis Saleh
Tanggal Posting : 6 Januari 2018
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, M.Pd

POLIGAMI ITU BERBAGI©

Entah kenapa tema ini selalu hits, baik untuk dicaci, maupun dicari cara untuk mendekati. Banyak lelaki menyenangi tema ini, apakah untuk benar-benar serius ataukah hanya untuk meramaikan diskusi. Akan ada dua pihak yang saling bertukar argumentasi, antara ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Kedua pihak yang ekstrim pasti menggebu-gebu, baik untuk menolak atau sangat setuju. Diantara bandul ekstrim tadi, sebaiknya kita introspeksi. Kewajiban kita adalah menata diri supaya siap dengan apapun yang terjadi. Jika harus berpoligami, mari kita nikmati dengan sepenuh hati.

Poligami adalah istilah yang tidak disukai oleh para pihak yang “berjuang” membela hak-hak kaum wanita. Padahal, suka atau tidak suka, kita harus menerima fakta bahwa orang tua kita “senang” dengan poligami. Diantara mereka, ada yang bermasalah, ada juga yang mensyukuri. Ada banyak orang yang menutup diri daripada membuka diri. Apakah karena keadaan, atau karena kurangnya ilmu pengetahuan, hal itu sangat mempengaruhi. Saya tidak perlu jauh-jauh untuk mengamati, karena keluarga besar dari istri saya adalah salah satu produk dari poligami.

Sesungguhnya, Allah telah memampukan manusia untuk melakukan segalanya, termasuk bersepakat dalam poligami. Allah berikan kemampuan kepada perempuan dan laki-laki untuk mensyi’arkan poligami. Renungkanlah tentang makna dan isyarat Allah yang memulai urutan angka (beristri) dari empat, bukan dari satu. Maknanya bisa digali sedalam lautan. Kedalamannya tergantung kepada pikiran manusia, seberapa sering diberdayakan, dan kemana kah arah pikiran dikendalikan. Apalagi jika didukung oleh jiwa, yang mendapatkan kesempatan untuk dimerdekakan. Makna itu akan menghapuskan kekhawatiran, dan melahirkan keadilan.

Adapun kekhawatiran, adalah godaan setan yang selalu dihembuskan ke dalam pikiran manusia. Hal itu adalah pekerjaan utamanya mereka. Selama kita memiliki dada, rasa itu akan selalu ada. Justru, itu tantangan bagi kita untuk mengendalikannya. Jangankan untuk menikah, takbir shalat saja banyak yang terkena rasa khawatir. Infaq shadaqah juga sangat banyak sekali yang khawatir. Manusia-manusia modern, hanya untuk senyum pun, selalu khawatir. Sangat manusiawi dengan hadirnya kekhawatiran, tapi rasa itu jangan sampai menghalangi kebaikan. Bahkan, kekhawatiran harus diarahkan untuk bersemangat dalam merealisasikan kebaikan.

Dengan demikian, kunci utamanya ada pada pengendalian, bukan bergerak karena keterdesakan. Kemampuan ini sudah Allah tanamkan sejak kelahiran. Manusia harus berlatih mengendalikan, supaya mendapatkan apa yang diharapkan. Allah telah berikan bibit-bibit kemampuan, apakah untuk menjadi malaikat, ataukah menjadi pemimpin setan. Allah ‘menantang’ manusia, apakah akan menjadi taat melebihi malaikat, ataukah laknat di atas setan. Allah memberikan keduanya sebagai pilihan. Manusia tidak boleh memilih untuk menjadi makhluk biasa, kecuali hidupnya datar-datar saja. Manusia harus menjadi yang terbaik, dimanapun mereka berada.

Di keluarga, laki-laki harus menjadi yang terbaik, sebagai imam yang paling baik, yang memberi contoh dengan teladan terbaik. Perempuan juga harus menjadi yang terbaik, menjadi ma’mum dan manajer yang disegani di rumah tangga. Allah telah memberikan pengetahuan dan jalan untuk mencapainya. Semuanya telah tertulis dalam al-Qur’an dan berbagai tafsiran yang menjelaskan. Kita juga bisa belajar dari kehidupan, dengan pengalaman sebagai “guru yang terbaik”. Di semua hal, kita akan menemukan kebaikan yang terbaik, meskipun yang tampak di mata adalah kejahatan yang mengoyak perasaan. Kita harus bersyukur telah dimampukan, kecuali kemampuan itu terbiasa dilemahkan.

Dalam poligami, kemampuan itu bisa dieksplorasi. Poligami akan menantang manusia untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Itu sebagaimana Allah tetapkan target bagi semua hamba-Nya, “untuk menjadi yang terbaik dimanapun mereka berada”. Target itu tidak hanya menantang pihak laki-laki, tapi sekaligus melatih pihak perempuan untuk “menguasai” keadaan. Pertanyaannya, kenapa harus latihan dengan poligami? Justru itu, manusia harus dilatih dengan ujian-ujian yang luar biasa ekstrim. Seperti buah simalakama, antara ayah atau ibunya yang harus tereliminasi. Kita tidak boleh alergi dengan poligami, karena Allah telah putuskan sebagai solusi.

Jadi, laki-laki tidak boleh plin-plan. Dia harus berlatih mengambil keputusan-keputusan genting yang menentukan. Laki-laki tidak boleh abu-abu atau ragu-ragu. Take it or leave it. Kaum perempuan senang sekali dengan imam yang berketetapan, meskipun di kemudian hari harus ada revisi terhadap keputusan. Kalau hendak memutuskan poligami, ia harus siap menerima konsekuensi. Tidak zaman lagi berotot besi berlaku tirani. Ia harus bertanya melalui perasaannya karena ada perasaan yang harus diperhatikan dari pasangan. Tidak pantas seorang lelaki memilih untuk menikmati senangnya saja, dan meninggalkan pasangannya dalam kesedihan.

Demikian pula dengan perempuan, sebagai penyempurna kehidupan. Ia harus lapang dalam perasaan, juga harus tegas dalam ketaatan. “Saya siap dipoligami dengan kondisi seperti ini. Jika kondisi itu tidak hadir, tidak sepantasnya Abang mencari lagi. Saya rela mempertemukan dan melamarkan, andaikan berdasarkan ridla Ilahi.” Karakter perempuan seperti itu jarang ditemui. Selain lingkungannya harus eksklusif, perempuan seperti itu sulit dicari. Dibutuhkan tempat pembibitan dan pengembangan yang ‘radikal’ agar mendapatkan pelatihan dan dukungan yang maksimal. Hasilnya, adalah perempuan yang membanggakan.

Sekadar pemanasan, saya ajak untuk mengambil yang baik dari film ‘Surga yang Tak Dirindukan’. Film ini bercerita tentang seorang suami yang terpaksa harus poligami. Meskipun secara cerita (skenario) bisa dihindari, tapi keadaan hanya memberikan satu jalan: berikrar untuk menikahi. Menghadapi masalah super berat, perempuan itu bertekad kuat untuk mengakhiri. Ia tidak panjang berpikir, dengan mengambil simpulan bahwa masalah akan selesai dengan bunuh diri. Sekali lagi, itu karena pemahaman hidupnya yang sempit dan orientasinya yang tidak jelas atau terbatas. Akhirnya, dunia yang luas ini jadi menyempit.

Faktanya, ia tidak merasa terikat dengan bayi yang telah dilahirkan melalui rahimnya. Bayi itu tidak menjadi penghalang baginya untuk bunuh diri. Ia nekad tetap ingin mengakhiri deritanya dengan loncat dari gedung tinggi. Bisa jadi, peribahasa “Surga ada di bawah telapak kaki ibu” hanyalah slogan tanpa arti apa-apa. Padahal, maknanya luar biasa. Dan itu hanya bisa dijangkau oleh perempuan yang telah selesai mengenali dirinya. Jadi, ia sendiri tidak memahami arti dan rahasia kenapa ada rahim dalam dirinya. Untung saja ia bertemu dengan lelaki siaga, meskipun dituntut harus menikahi.

Sungguh, sang suami tidak berpikir panjang tentang istrinya yang akan sakit hati. Ia hanya dipaksa oleh keadaan, yang memaksanya untuk menikahi. Ia tidak berniat menyakiti istrinya, atau sedang memanfaatkan keadaan untuk keuntungan dirinya. Ia harus mengambil keputusan di saat-saat yang sulit. Ia tidak mau ada kejadian lagi bunuh diri tanpa bisa menghalangi. Ibunya yang meninggal di waktu kecil, meninggalkan luka yang menganga. Untung saja ia mendapatkan bimbingan yang luar biasa, meskipun melalui panti asuhan. Jelas, kedalaman perasaan tidak sama dengan perasaan yang hanya mengerti permukaan.

Oleh karena itu, perasaan akan selalu sejalan dengan ilmu dan pengetahuan. Poligami menjadi ‘tabu’ bagi perempuan karena dalamnya perasaan. Sementara ilmu pengetahuannya dipinggirkan. Adapun laki-laki, lebih condong di factor kesempatan, meskipun tidak memenuhi kelayakan. Jadi, respon terhadap skenario film di atas, dari pihak laki-laki, akan dengan mudah memahami. Sedangkan dari pihak perempuan, pertanyaannya disertai dengan sindiran, panjang dan tak berkesudahan. Perasaan perempuan yang tidak berimbang, berhasil membangun persepsi poligami yang tidak berorientasi masa depan.

Di saat seperti itu, terbuka peluang untuk saling menghancurkan. Dengan bermodalkan kemarahan, gerombolan setan akan bertepuk tangan. Mereka senang jika upayanya menghasilkan. Tak kenal lelah, pasukan setan terus menghembuskan, “kesakitan harus diikuti dengan balas dendam”. Setan terus bersemayam dalam hasutan yang membutakan. Sekali terpeleset, tidak mudah untuk diperbaiki. Semoga pasangan yang sedang mengalami goncangan tidak menghadapinya sendirian. Mereka harus dijauhkan dari benda-benda tajam, atau lisan-lisan yang membahayakan.

Dalam konteks ini, tujuan pendidikan akan dipertanyakan lagi. Apakah pendidikan benar-benar berfungsi atau hanya rutinitas yang tidak bergigi. Secara lisan, sampai sejauhmana orang-orang yang mengalami sekolahan mampu mengendalikan ucapannya. Secara perbuatan, orang yang berpendidikan harus membanggakan. Secara sikap, mereka yang terdidik harus sedap dipandang mata. Secara berkala, rutinitas itu harus diberi tantangan dengan berbagai ujian. Sesekali, ujiannya berupa kejutan. Pendidikan itu harus memberikan efek perubahan, karena dunia ini pasti berubah. Pertanyaannya, apakah kita yang mengelola perubahan itu, ataukah manusia yang tergilas oleh perubahan.

Apa yang dihadapi oleh si suami, seperti membuka luka dan tak boleh terjadi lagi. Setiap pilihan emosi selalu menguras perasaan. Akal pun tak lagi berarti. Pilihan ibunya dahulu tak boleh terjadi lagi. Apalagi, kejadian itu ada di hadapannya. Lari dan bunuh diri adalah pilihan yang paling salah diantara yang lemah. Pilihan itu hanya diambil oleh orang-orang lemah dan rapuh. Akal mereka sudah tidak lagi diberi kesempatan untuk memberikan pengertian. Jiwa mereka sudah lama tersimpan dalam kerangkeng dan penekanan. Semuanya dirugikan. Oleh karena itu, menghadapi situasi dan kondisi seperti itu, ia berikrar untuk menikahi. Ia harus bersiap menghadapi kenyataan dan resiko, karena pilihan itu bukan untuk bersenang-senang atau menyakiti.

Ketika tiba waktunya, pilihan itu harus diuji. Sebelum ada kesempatan untuk mengatakan apa yang terjadi, istrinya sedang terbakar emosi. Kelembutan istrinya berubah menjadi gelegar kemarahan. Diawali dari kegagalan sahabatnya, kemudian ayah yang menduakan ibunya, dan dongeng-dongeng (kebahagiaan) yang diimpikannya, ternyata ia harus mengalaminya sendiri. Dan pertengkaran pun harus terjadi, dan tidak bisa dihindari. Yang melegakan, suaminya memilih solusi. Ia tidak memaksakan diri supaya istrinya menerima argumentasi. Ia memilih mengorbankan diri sendiri, dan tetap bercita-cita membahagiakan istri.

Berbahagialah dengan kehadiran anak-anak yang selalu menjadi pengikat dan penyempurna kebahagiaan. Bagi orang tua yang telah paham, anak selalu menjadi jembatan yang menyejukkan. Dengan didikan dan kasih sayang, anak akan membalas orang tuanya dengan ketaatan dan keceriaan. Dibalik jiwa sucinya ada darah yang menyatukan. Anaknya terus mengingatkan bahwa ayah ibunya harus tetap bersatu dalam kebahagiaan. Tidak ada alasan bagi keduanya untuk saling menghancurkan. Secara duniawi, anak adalah alasan yang paling pantas untuk menurunkan tensi ego dan kesombongan.

Pada akhirnya, sang istri memilih yang baik dan menyelematkan. Periode ammarah harus segera dilalui. Ia memilih melewatinya dengan berserah diri, disertai dukungan teman-temannya, didekap oleh empati ibunya, ia harus menerima bahwa kejadian ini bagian dari kesempurnaan hidupnya. Puncaknya, ketika memberi solusi untuk madunya. Lagi-lagi, anak yang sakit menjadi perekatnya. Seandainya marah-marah, semuanya menjadi retak atau patah. Dengan solusi, anak madunya terselamatkan, dan anak kandungnya mendapatkan limpahan kepercayaan.

Itulah fakta dari kemampuan dalam mengendalikan. Laki-laki jangan terjebak dalam perangkap penipuan. Fakta itu sebagai kebanyakan. Banyak diantara laki-laki yang ‘memaksa’ istrinya untuk menerima, dengan membawa istri mudanya. Apalagi dengan mempertontonkan ‘iba’ anak madunya. Memang benar bahwa ijin bukan persyaratan yang harus dilalui. Tapi sadar atau tidak, itu telah menyakiti. Suami seperti itu sama dengan tidak percaya lagi dengan istrinya. Setidaknya, tidak percaya bahwa istrinya akan mengizinkan untuk menikah lagi. Itulah suami yang belum selesai dengan tantangan pengendalian, apalagi lulus dari pelatihan.

Hal itu sudah ditegaskan dalam al-Qur’an bahwa qawwam menjadi ukuran kepemimpinan. Secara pribadi, ia telah tersertifikasi, dan bukan bagian dari masalah yang akan membebani. Secara komunitas, pancaran pribadinya terbukti dalam keteguhan dan fleksibilitas empati. Qawwam itu adalah kemampuan mengendalikan dalam berbagai kemungkinan. Hatinya lapang, teguh pendirian, dan tidak melenceng dari prinsip-prinsip orang beriman. Hal itu harus dilatih dan dibiasakan. Sejak dini, lelaki harus dididik untuk melindungi, mengayomi, dan mengasihi. Jika harus bersentuhan dengan kekerasan, cukuplah sebatas perkenalan. Jika itu sudah menjadi kebiasaan, akan ada banyak pihak yang dirugikan.

Sejatinya, tidak perlu ada yang merasa dirugikan. Semuanya mendapatkan keuntungan, tidak hanya di alam dunya, tapi menjadi bekal untuk hidup kekal di alam sana. Semuanya bisa dikelola dengan sangat baik, tergantung kemampuan pasangan dalam menyikapi. Kuncinya tetap berkomunikasi dan luangkan waktu untuk menyendiri bersama Allah Yang Maha Mencintai. Kalau ada kemampuan dan kelebihan yang diamanahi, salurkan di jalan yang benar, dengan strategi dan penerapan yang sangat tepat.

Akhirnya, mari kita sederhanakan, bahwa poligami itu hanyalah berbagi. Kalau manusia senang sekali diberi, jangan lupa untuk berbagi. Rumusnya tercantum dalam al-Qur’an, “Seseorang belum berada di level kebaikan jika belum sedia memberi yang terbaik dari apa-apa yang ada di dirinya”. Hartanya, kepemimpinannya, budi bahasanya, ilmunya, itu adalah titipan semata. Oleh karena itu harus dikembalikan kepada-Nya melalui saudara-saudara kita yang membutuhkan, dan tak boleh disia-siakan begitu saja. Sekali direlakan, itulah kepemilikan kita yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam.

 


© bacalah setelah menonton film Surga yang Tak Dirindukan, J untuk memudahkan mendapatkan pengertian.



Kolom Mahasiswa Lainnya :