Perpanjangan Penerimaan MABA Gel. I TA. 2018/2019 Pascasarjana UIN Suska Riau 14 Agustus 2018 s.d 27 Agustus 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
SALAMUN ‘ALAIK YA MUHAMMAD©
Mahasiswa : Agus Nurcholis Saleh
Tanggal Posting : 11 Desember 2017
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, M.Pd

Alhamdulillah, selama bulan ini, kita akan terus diingatkan. Adalah maulidan yang bergema di berbagai kesempatan. Bulan Rabi’u al-Awwal adalah bulan kelahiran. Lahirnya manusia terbaik sepanjang masa, terunggul atas segalanya, terkasih oleh seluruh umat Islam sedunia, dan terjaga dari hal-hal yang merusak dan meracuninya. Dialah yang pantas dicemburui malaikat, dijauhi para setan, dan ditentang oleh orang-orang yang tidak senang. Berbahagialah para sahabat yang pernah hidup bersamanya. Siapapun di sekelilingnya akan mendapatkan limpahan berkah dan karunia dari Allah Ta’ala. Kerugian lah orang yang tidak mengenal dirinya.

Selain kehilangan iman, juga kesehatan, tidak mengenal Muhammad SAW. adalah kerugian yang mendalam. Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika tidak ada Rasulullah SAW., bangsa ini tidak punya keteladanan. Mencari pejabat yang amanat, seperti orang miskin mencari kekayaan. Jangan salahkan google jika di ‘ulama tak nampak lagi kewibawaan. Keteladanan itu muncul karena Allah Ta’ala, karena ‘umaro merasa diperjalankan. Sementara ini, tak ada lagi kemaluan dalam kepercayaan. Rasa malu sudah dibuang jauh entah kemana. Sudah biasa, menggadaikan harga diri demi kuasa dan jabatan.

Di zaman ini, sulit sekali mencari cermin yang utuh. Hampir tidak ada model superior yang membumi dan menundukkan hati. Sulit sekali menemukan seorang teladan yang benar-benar tulus, dimana pangkal dan muaranya adalah Allah Ta’ala. Dunia telah menekan manusia, dan manusia telah menuhankan dunia. Permohonan Allah tidak digubrisnya. Padahal, Dialah yang menciptakan manusia. Dialah yang menundukkan dunia untuk manusia. Dialah yang menjamin setiap manusia mendapatkan jatahnya. Tak ada Dia, kamu bukan apa-apa. Jangan menunggu Allah murka, hingga kamu akan tersiksa selama-lamanya.

Sebelum itu terjadi, Allah telah mengutus setiap Rasul untuk pendampingan, pembimbingan, dan kemajuan ummat-Nya. Pasti ada utusan pilihan di setiap umat di setiap zaman. Utusan itu ditugaskan untuk menjadi mursyid; mengabari yang baik, mewanti-wanti yang merusak. Seseorang yang baru pertama kali terjun di dunia fana, membutuhkan panduan dan petunjuk perjalanan. Bisa jadi, banyak yang tidak menemukan utusan, atau bahkan tidak membutuhkan. Faktanya, banyak manusia yang tersesat atau kebablasan. Forum pengajian memang membosankan. Pasti, lebih banyak ucapan daripada ‘amalan.

Ya, tidak mengapa kalau memang sudah merasa nyaman. Tapi Allah memberikan banyak jalan. Dia ada bersama kita. Itu tantangan bagi manusia, untuk menjadi mampu dan merasakan kehadirannya, serta menerima kebersamaan-Nya. Harus disadari, kita adalah utusan untuk diri kita sendiri. Setidaknya, utusan itu telah ada dan melekat dalam dada setiap manusia. Kita adalah pemimpin dari semua sumber daya yang Allah titipkan dalam sistem dan bangunan manusia. Kita adalah manusia, sekaligus Tuhan bagi diri kita sendiri. Panduannya, berdoalog saja tentang kita: dari mana, sedang apa, mau kemana.

Jika pendalamannya dilakukan secara benar, maka dialog itu akan bermuara kepada akhlaq dan kedamaian. Itulah tugas utama Rasulullah diutus ke dunia, yaitu untuk menyempurnakan akhlak. Setelah itu, untuk menjaga kedamaian dalam naungan Islam. Dalam perjuangannya, Ia harus menghadapi ekses dari kekuasaan. Yang kuat menindas yang lemah. Jika mengganggu stabilitas kekuasaan, tak mengapa jika harus terjadi pembunuhan. Kesukuan menjadi patokan. Kemuliaan diukur dari kekerabatan. Wajar, jika mereka kaget dengan kenyataan bahwa utusan terakhir adalah Muhammad yang di luar ring kekuasaan.

Kaum perempuan lebih sadis diperlakukan. Mereka dijadikan budak belian. Perempuan hanyalah komoditas tanpa jiwa dan pikiran. Tak ada kemerdekaan bagi perempuan. Kelahiran perempuan adalah ‘aib yang terperikan. Mereka harus dikubur dalam-dalam, tidak ada kesempatan untuk membuktikan kemuliaan. Perempuan boleh dicampakkan, dan dipanggil hanya saat dibutuhkan. Jika tak senang, kapan saja bisa disingkirkan. Sisanya, perempuan benar-benar hanya sebagai factor produksi dalam mengumbar kesenangan. Islam lah yang drastis membalikkan keadaan. Diutuslah Muhammad salla Allahu ‘alaihi wasallam.

Begitu beratnya beban perjuangan, Allah menempa Muhammad dengan berbagai pelatihan “kesulitan”. Sejak lahir, Ia sudah yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal enam bulan sebelum hari kelahirannya. Setelah lahir, Ia tidak berlama-lama dalam pangkuan ibunya, Siti Aminah. Ada dua ibu susuan yang ikut berperan membesarkannya. Hidupnya dijauhkan dari kebisingan kota. Ia tinggal di dusun, supaya hidup di alam yang segar dan berbahasa Arab yang masih baku. Di usia 6 tahun, ibunya meninggal dunia. Dua tahun kemudian, Ia ditinggalkan kakek yang telah merawat dan menyayanginya. Namun, rahasia Allah belum tentu bisa dipahami oleh manusia, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”

Hasilnya, Muhammad SAW. berakhlak sempurna. Akhlaq Muhammad is almost perfect. Kuncinya adalah berlapang dada. Dia menerima semua ketetapan Allah kepada dirinya. Ia tidak mengapa dengan banyak beban di punggungnya. Hal itu tidak menjadi masalah. Muhammad telah teruji. Ujiannya selama 40 tahun, dan semuanya lulus dihadapi. Hal itu tampak pada (indicator) akhlaqnya yang mulia. Jika terpeleset, ia langsung diingatkan, dan tak menunggu lama untuk kembali pulang. Proses dan tempaan sebelum kenabian adalah perjalalan pondasi yang membuat Muhammad SAW. begitu tegar dan kokoh. Bagi kita, sesekali boleh menjawab dan berdialog dengan Allah yang di al-Qur’an mempertanyakan, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”

Adalah hak bagi Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Jelas, disertai dengan reward dan punishment. Ingatlah, bahwa reward yang terbaik itu bukanlah surga, tapi jaminan dari-Nya untuk menghilangkan beban ketika istiqomah dan lulus ujian. Setelah itu, tak ada lagi yang memberatkan punggungmu. Semua kesusahan adalah kesenangan. Semua kesulitan adalah kebahagiaan. Semua rintangan adalah tantangan. Dalam setiap ujian, ada Allah yang setia bersama kita untuk menyelesaikan semua hambatan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad s.a.w. sukses memanggul beban risalah, berhasil menghirup derita dalam-dalam, dan melompati segala kesusahan dengan senyuman.

Atas jerih payah upayanya, Allah tinggikan nama dan harumkan Muhammad SAW. Itulah jaminan dan balasan bagi mereka-mereka yang all out berjuang di jalan Tuhan. Namanya tersebut triliunan kali oleh mereka yang shalat. Namanya bergema dalam majlis shalawat. Pagi dan petang, Muhammad SAW. selalu dikumandangkan. Dengan bonus syafa’at, manusia berjalan dalam koridor syari’at. Sedang hamba-Nya yang ma’rifat, ridlo Allah adalah tujuannya. Dan Allah perintahkan seluruh makhluq membantu menyelesaikan masalahnya. Adakah diantara kita yang masih saja berkeluh kesah?

Tidak banyak orang tahu bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Padahal, banyak sekali manusia yang sering melakukan perjalanan, dan mereka tahu bahwa setelah tanjakan hampir diakhiri dengan turunan. Faktanya, lebih memilih berkeluh kesah ketika berhadapan dengan masalah. Dan, itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi sering dicampur dengan marah-marah. Keluh kesah dan marah adalah jodoh yang mengundang gelisah. Setelah itu, datanglah setan dengan rayuan yang menghancurkan. Manusia tidak banyak tahu dengan rahasia Allah, karena itu mereka saling melemahkan, bukan saling menguatkan.

Di sinilah rahasia sesungguhnya kenapa Allah SWT. harus ghaib. Supaya manusia benar-benar ber’amal karena dirinya memang tukang ber’amal. Ia jujur karena sejatinya manusia tidak mau berbohong. Ia ringan tangan, karena sejatinya manusia tidak senang hidup sendirian. Ia tersenyum, karena sangat sadar bahwa Allah yang memampukan setiap aktivitas dan perjalanan. Ia cerdas dan tekun, karena ia tidak dilahirkan dalam kebodohan. Ia tidak pedulikan ucapan dan penilaian orang, apalagi yang menjerumuskan. Apakah dengan celaan, bahkan dengan jebakan pujian. Allah adalah sumber, target dan orientasi, serta kekuatan selama mengarungi tugas kekhalifahan.

Itulah sebabnya Allah berharap, “kepada-Ku lah kamu mengabdi, Dzat Maha yang tidak pernah meninggalkan kamu sedetikpun”. Jika sedang membantu sesama, sandarkan semuanya kepada-Ku. Basmalah sedari awal, hamdalah ketika sampai di akhir. Kamu kosongkan dirimu dari ego dan kesombongan, Aku akan masuk memenuhi dirimu, di setiap aliran darah, dan di setiap hembusan nafas. Aku bantu kamu dengan kekuatan yang tidak ada kekuatan di manapun selain kekuatan-Ku. Jika Aku di luar, bukan Aku yang menginginkan di luar. Tapi dirimu yang mendorong-dorong, mendesak-desak, dan memecat diri-Ku.

Lihatlah apa yang diperoleh oleh Muhammad sebagai utusan Allah. Dia menjadi inspirasi ummatnya untuk saling membantu dan berkasih sayang. Akhlaqnya melahirkan kewibawaan. Cahayanya menarik kesetiaan dari sahabat-sahabat di sekelilingnya. Integritasnya memancarkan keteladanan. Tidak hanya dari kalangan Islam, orang luar pun mengaguminya. Kamu akan melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah Rasulullah dan ummatnya, seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.

Berkat Muhammad SAW., tentu dengan izin Allah, muncullah seorang sahabat yang tidak pernah meragukannya sedikit pun. Dia akan selalu membenarkan apapun yang dikatakan Rasulullah SAW. Ia adalah successor yang bernama Abu Bakar al-Shiddiq. Selain itu, lahir pula seorang pembela tangguh yang sebelumnya menjadi penentang yang angkuh. Ia luluh karena cucuran darah adiknya, karena nuraninya terusik dengan panggilan awalan Q.s. Thaha. Bahkan, beberapa kali Allah membenarkan pendapatnya dengan firman-Nya. Dialah yang mengubah sejarah, untuk tidak malu-malu mempromosikan kebenaran. Adakah diantara kita yang tidak mengenal Umar ibn al-Khaththab?

Kita harus berterima kasih kepada Rasulullah SAW, yang demikian memikat dan menawan hati. Bahkan, Allah dan malaikat pun telah lebih dahulu bershalawat dan menghaturkan salam kepadanya. Kehadiran Muhammad SAW. telah membuka rahasia dan cakrawala seisi dunia. Semua utusan disempurnakan oleh Dia. Seandainya kalian tahu, betapa dahsyatnya hadiah dari shalat shubuh, kalian akan segera berangkat, meskipun harus melipat kaki dan berjalan merangkak. Itulah tantangan sesungguhnya bagi manusia yang mengaku sebagai makhluq sempurna. Lantas, kita akan beralasan apa lagi?

Berbahagialah menjadi ummat Muhammad SAW. kalian tidak akan disia-siakan. Kalian akan menjadi yang terunggul dan terpandang. Darinya memancar kejujuran, keindahan, keselamatan, keseimbangan, kebermanfaatan, terutama keadilan. Mereka akan senantiasa memupuk keimanan, memantapkan pengabdian, serta menyempurnakan amalan dengan akhlaq dan ihsan. Kalau ingin bersama Dia, berakhlaqlah seperti Dia. Kalau ingin diakui Dia, akuilah Dia dengan mengikuti jejak dan akhlaqnya. Kalau ingin dipanggil Dia, sering-seringlah memanggil Dia. Kalau ingin disapa Dia, berdekat-dekatlah dengan Dia. Itulah kebahagiaan bersama Islam melalui Dia.

Bagi pemegang kekayaan atau pemangku kekuasaan, Dialah yang telah menitipkannya kepada kalian. Itu semua hanya (barang) titipan, bukan kepemilikan. Jangan silau dengan godaan dan tipuan. Sakit sekali jika terpeleset atau terjerumus. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menjaga amanah. Itu bukan hadiah, karena segala yang di dunia adalah ujian untuk mendapatkan “hadiah”. Semakin banyak yang disimpan (dalam timbunan), semakin banyak yang harus dipertanggujawabkan. Justru itu, semakin banyak yang dikeluarkan, itulah sejatinya kepemilikan.

Kepemilikan dunia adalah siksaan. Sedangkan kepemilikan di alam sana, adalah kemerdekaan. Setiap kepemilikan, hanya bisa diklaim jika sudah tidak lagi hidup di dunia. Itulah seninya kepemilikan dalam kemiskinan. Ia merdeka kapan pun ingin bertemu dengan kekasihnya. Ia bebas memilih kesenangan yang ingin dirasakannya. Ia bebas menunjuk lawan main yang disukainya. Dan yang diminta, dijamin akan mau menerima. Sedangkan kekayaan dunia malah merepotkan. Selain menimbulkan biaya, pembawaannya was was semata. Ayo pilih yang mana, menjadi faqir atau memilih aghniya.

Sayalah faqir yang kehausan dan kelaparan. Tapi di bawah bimbingan dan petunjuk-Nya, dengan banyaknya contoh dan keteladanan dari Rasul-Nya, kemudian difasilitasi oleh ketundukkan semesta-Nya, tak ada lagi keraguan untuk selalu bersyukur atas kepercayaan-Nya. Maulidan ini seperti kentongan, setelah itu kitalah yang menentukan. Akan dianggap symbol ataukah harus dikejar dengan ‘amalan, fitrah manusia yang akan memandu jalan. Pasrahkanlah, kosongkan dirimu, berserah dirilah, biarkanlah Allah yang memandu. Kemudian, jalan kebahagiaan akan setia bersamamu, selamanya.

Wa al-‘afwu minkum, wa Allahu a’lam

 

©terima kasih kepada Tuan Guru Dr. H. Mawardi M. Saleh, atas ilmu dan inspirasinya, terkhusus dari kajian al-Insyirah dan al-Tiin.



Kolom Mahasiswa Lainnya :