Perpanjangan Penerimaan MABA Gel. I TA. 2018/2019 Pascasarjana UIN Suska Riau 14 Agustus 2018 s.d 27 Agustus 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
TUGASMU TELAH BERAKHIR
Mahasiswa : Agus Nurcholis Saleh
Tanggal Posting : 28 Nopember 2017
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, M.Pd

Agak terharu juga menyaksikan kepergianmu, meskipun pergi tanpa pamit, pergi secara ghaib. Sambil menunggu, hatiku dag-dig-dug tak menentu, barangkali masih ada kesempatan untuk tetap bersama. Saya putuskan tetap menunggu, sampai saya merasa yakin bahwa dirimu benar-benar pergi bersama yang lain. Mungkin saya disuruh untuk membaca ayat demi ayat-Mu, supaya iman tetap kerasan bersamamu. Biasanya, setelah meresap ke dalam jiwa, aku benar-benar rela, takdirmu bersama yang lain. Itulah sendalku di siang itu.

Flashback ke masa lalu, awal pertemuan kita cukup mengesankan. Dirimu begitu kokoh, dan membuat siapapun yang bersama dirimu akan merasa percaya diri. Selain itu, brand yang melegenda akan menenteramkan hati siapapun yang memakainya. Tak peduli lagi dengan harga, tidak jadi soal ketika sudah merasa nyaman bersama. Oleh karena itu, saya tetap setia bersamamu meskipun beberapa bagian sudah tidak seperti dahulu. Perpisahan ini telah mengakhiri tugasmu melindungi telapak kakiku.

Setiap perpisahan, banyak yang mendatangkan kesedihan. Dalam keluarga, ada istilah perceraian. Dalam pekerjaan, ada istilah pemecatan. Dalam kehidupan, ada istilah kematian. Tapi hidup ini sudah diciptakan berimbang. Dalam perceraian, pasti ada kebahagiaan. Demikian pula dalam pemutusan dan perpisahan kematian. Itulah yang dicontohkan oleh Nabi Ayyub a.s. dalam menghadapi “ketegaan” setan. Dia tetap berbahagia, meskipun hidup dirundung duka. Pangkalnya adalah merasa bersama dengan Allah Ta’ala.

Itulah kekuatan yang telah Allah tanamkan dalam jiwa manusia. Allah Maha Tahu dengan yang akan dihadapi manusia. Dunia dan seisinya adalah permainan semata. Tapi permainan itu harus dikendalikan oleh manusia. Tidak boleh terbalik, jangan terjadi sebaliknya. Manusia harus menyiapkan dirinya untuk layak dalam mengelola permainan menjadi pemenuhan bekal dan kebutuhan. Bekal itu harus ada, dijemput, dan dipergunakan untuk mengarungi kehidupan. Manusia tidak boleh terjebak oleh permainan, sehingga lupa dengan tujuan.

Satu fragmen penting yang harus dipikirkan dalam pengelolaan permainan adalah menyiapkan kematian. Itulah terminal antara, yang menghubungkan dunia dengan alam di sana. Manusia harus menghadapi kematian seperti seorang kekasih yang akan bertemu dengan pujaannya. Ini tidak seperti mayit yang didandani. Tapi, muncul keinginan dari hati, bahwa kematiannya ingin seperti Nabi. setidaknya, seperti hamba Allah yang bergelar wali. Kematian bukanlah permainan, tapi sebuah keharusan. Kematian adalah rute menuju tujuan akhir, dan berharaplah mati dengan sambutan kedamaian.

Allah membekali manusia dengan akal dan jiwa. Keduanya diselimuti oleh tubuh yang sempurna. Semakin diteliti, tubuh manusia semakin misteri. Setelah ditelusuri, rasa penasaran para ahli tidak akan pernah berhenti. Bayangkanlah bagaimana seandainya jika fungsi hati sudah terhenti. Tiba-tiba, tubuh menjadi hitam, dan hilanglah kepercayaan diri. Bagaimana pula jika di lidah tidak ada sesuatu untuk diludahkan. Atau sebaliknya, bagaimana apabila air liur terus menerus keluar tanpa terkontrol. Semua loss. Lantas, siapakah yang berkuasa dengan itu semua? Berpikirlah, dan bersyukurlah.

Tentang kematian, akal dituntut untuk berpikir hingga diperoleh sebuah metode mati dalam kedamaian. Kenapa manusia harus mati? Kapan manusia mati? Apa sebab-sebab yang mengakibatkan manusia mati? Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sanggupkah manusia tidak mati? Bolehkah manusia menghindar dari mati? Adakah manusia yang ingin cepat mati? Kenapa ada manusia yang berani bunuh diri? Jadi, belajarlah dari kematian, supaya manusia mendapatkan kedamaian, dan hidupnya akan selalu dipenuhi dengan kesyukuran.

Sebagai persiapan pendahuluan, kita bantu orang tua kita untuk menyiapkan bekal yang cukup menghadapi kematian. Tapi, kematian itu bukan karena kecelakaan, atau berlama-lama di ruang perawatan. Na’udzubillah jika mati akibat dari tabrakan. Justru, kita bersama orang tua berupaya menyibak tabir kematian senikmat kebahagiaan. Jika Allah menginginkan Islam, kita harus ber-Islam lebih dari yang Allah dambakan. Sebelum dijemput mati, semua dipersiapkan. Utang-utang diselesaikan. Kepada handai tolan mohon dimaafkan. Jika masih ada kepemilikan, segera dilepaskan. Bahkan, anak dan pasangan diajak serta dalam persiapan. Percobaan mati selama pelatihan.

Dari itu, tidak ada lagi istilah mati penasaran. Semua tugas telah ditunaikan. Ibadah itu tidak hanya demi pribadi. Tapi, keluarga dan lingkungan ikut merasakannya. Karya nyata telah diwujudkan. Kematian tidak untuk ditangisi. Sebaliknya, kematian adalah wujud kekuasaan Allah yang harus kita jemput dengan kegembiraan. Mati gembira bukanlah mati tertawa. Ahli waris dan keluarga telah berdo’a, serta merelakan kepergiannya. Mati gembira bukanlah menjadi tidak ada. Itu hanya berpindah dunia, karena tugas telah dikerjakan semua.

Jika itu yang terjadi, tak perlu ada wahn: “cinta dunia, takut mati”. Sehingga semua dilabraknya. Aturan tidak dikenalinya. Panduan dipinggirkannya. Siapa menghalangi, dihabisinya tanpa tega. Perasaannya entah kemana. Simpati-empati dikubur bersama. Prinsip-prinsip dilanggarnya. Seakan-akan tidak ada kebaikan, kecuali pada dirinya. Semua menjadi subjektif. Objektivitas dikesampingkan, termasuk prinsip-prinsip secara deduktif. Padahal, akal sehat tidak menyetujuinya, dan jiwa tidak menyenanginya. Bahkan, Allah dianggap tiada. Sungguh luar biasa. Tidak ada artinya lagi peringatan bahwa akhirat adalah tujuan dan prioritas utama. Hal itu tampak dari kebanyakan manusia untuk lebih memilih dunia.

Di sinilah posisi manusia sebagai makhluq sempurna. Manusia diberi kesempatan untuk berkuasa dengan “bebas” memilih jalan (manapun) yang akan ditempuhnya. Artinya, sudah tertutup peluang untuk mempertanyakan lagi bahwa manusia tergantung dengan taqdir-Nya. “Saya begini karena taqdir dan restu Allah SWT.” Justru, manusialah yang dipersilahkan untuk memilih rute kembali kepada-Nya. Jika ingin dingat-ingat oleh-Nya, manusia tidak boleh melupakan-Nya. Jika seringkali melanggar panduan-Nya, tidak boleh protes dengan konsekuensi yang akan diterima oleh manusia. Akibat itu tergantung kepada sebabnya. Setiap perbuatan, selalu ada konsekuensinya.

Manusia boleh bertanya. Tapi tidak untuk bertanya, “Kenapa saya dibangkitkan dalam keadaan buta? Padahal selama di dunia baik-baik saja?”. Itulah kebodohan manusia yang telah menghancurkan kesempurnaan. Bukankah telah Aku ingatkan bahwa tugasmu di dunia adalah untuk beribadah. Kamu adalah yang terbaik. Bahkan, best of the best. Tapi kenapa hidupmu tak beraturan. Jalan hidupmu tidak bertujuan. Perilakumu tidak mencerminkan kesempurnaan. Pikiranmu sering berlawanan. Ucapanmu selalu menyakitkan. Tanda tanganmu digunakan untuk menyalahgunakan kekuasaan. Begitulah manusia yang tidak berterima kasih dengan kepercayaan yang telah diberikan.

Jadi, mari kembali kepada kesejatian. Kita tidak perlu merasa takut, seakan hidup dalam kesendirian. Prinsip-prinsip harus dipertahankan. Kita tidak boleh terbawa oleh arus yang akan menghanyutkan dan meninabobokan. Justru, kita harus tahan dari godaan dan ketakutan akan kehilangan. Kita tinggal mengingat prinsip-prinsip yang utama, panduan hidup dari Allah Ta’ala. Dalam hal ini, kepemilikan mutlak ada di tangan Dia Sang Maha. Adapun kita di dunia hanya sebagai makhluk terpercaya yang dititipkan segala-gala. Tugasnya juga sudah jelas, sehingga tidak perlu mencari helah yang malah mengkhianati kepercayaan dari-Nya. Disamping itu, segala upaya duniawi hanyalah merusak dan mengacak-acak kesempurnaan manusia.

Apalah artinya harta dunia, pangkat dan tahta, semuanya fatamorgana. Seperti ada padahal tiada. Tidak satupun dari mereka yang ikut masuk kubur bersama kita. Itu adalah ujian dari Yang Kuasa, apakah hartanya digunakan untuk promosi Kasih dan Sayang-Nya, ataukah untuk kebanggaan dan ke-Aku-annya. Allah sedang memperhatikan manusia. Apakah harta-Nya digunakan untuk kebaikan sesama, ataukah untuk pamer semata. Apakah kekuasaan-Nya digunakan untuk menegakkan prinsip dan aturan Allah Ta’ala, ataukah tergoda untuk menumpuk dunia. Apakah pangkatnya dioptimalkan untuk mewujudkan kedamaian dan persaudaraan, ataukah untuk urusan ashabiyah yang menekan siapa saja. Allahu a’lam.

Wahai hamba-Nya, berbahagialah menjadi manusia yang dipenuhi iman, dikendalikan dengan Islam, dan dihiasi dengan ihsan. Tugasmu telah berakhir dengan kebahagiaan. Kalau datang dengan sempurna, maka pulang harus dalam kondisi paripurna. Sampai jumpa di Surga, amin…

*Mahasiswa S3 jurusan Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Suska Riau (guscholis@gmail.com)



Kolom Mahasiswa Lainnya :