Jadwal Penerimaan Mahasiswa Baru Gel. II TA. 2017/2018 pada 13 Nopember 2017 s.d 19 Januari 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
UNTUNG PAS GAJIAN; BELAJAR DARI IKLAN
Mahasiswa : Agus Nurcholis Saleh
Tanggal Posting : 20 Nopember 2017
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, S.Pd

UNTUNG PAS GAJIAN; BELAJAR DARI IKLAN©

“Aku pasrah deh, ikut apa maumu. Meskipun kemauanmu belum tentu kebutuhanmu. Bahkan bisa jadi, kebutuhanmu hanyalah keinginanku. Tapi tak mengapa, saya cukup merasa bangga telah dipercaya menjadi perantara pemenuhan keinginanmu, walau bagimu tak seberapa.”

Alhamdulillah, saya masih diberi kemampuan untuk tersenyum. Paling tidak, senyum (dalam) kegetiran. Dibantu temuan penelitian, saya sedang berusaha mempertahankan tersenyum. Setidaknya, untuk menjaga wajah saya dari keriput. Dengan tersenyum, masalah mulai berhamburan, beban-beban berguguran. Rasanya seperti melayang dan ringan tangan. Saya bersemangat, (diyakini) memancarkan energi semangat, dan dibalas semangat oleh saudara-saudara yang di sekeliling kita.

Secara empiris, senyum itu harganya mahal. Ia telah menjadi barang antik yang harus segera di-museum-kan. Senyuman hanya ditemukan di ruang privat, mulai jarang ditemukan di ruang publik. Saat berpapasan, saat berhadapan, saat bertatapan, saat membuka obrolan, saat terlibat percakapan, saat memutuskan perpisahan. Saat dimana seseorang merasa asing dengan apa yang ada di sekitarnya. Apalagi saat konflik dan mulai bermusuhan, senyuman menjadi priceless, tak terjangkau lagi. Itulah sesuatu yang tadinya anugerah, di-modif manusia menjadi sesuatu yang complicated.

Dalam kondisi “tertekan”, sang suami berupaya meredakan keinginan istrinya. Ia berusaha menghindari istrinya untuk mendinginkan. Sekuat mungkin bertahan dari serangan. Untung saja, mereka tidak bertarung untuk saling mengalahkan, supaya ending-nya kebahagiaan. Mereka tidak mencari kemenangan untuk mengejek kekalahan. Tapi berupaya mentransformasi keinginan menjadi kebersamaan. Itulah sandaran yang mungkin sekali dikemukakan, bahwa bepergian adalah untuk memelihara kebersamaan. Kesepakatan itulah yang akan menguatkan.

Iklan itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Membantu saya untuk memelihara senyuman. Setiap kali melihat itu, saya berusaha untuk memperhatikan detil yang ditampilkan. Terbayang-bayang kehidupan berkeluarga. Ada daya tarik yang membantu saya mencari jalan keluar dari persoalan keluarga. Segera, saya diberikan cakrawala, untuk berpikir liar, bahwa beban ini harus ditanggung dengan senyuman. Keinginan itu pun akan menjadi indah, jika dikomunikasikan dengan seyuman. Jika memukul sambil merangkul, dengan transfer rasa dari jiwa, hidup ini sungguh luar biasa.

Ada banyak pengetahuan yang ingin dilesakkan. Iklan itu memberikan gambaran, bahwa harapan harus diperjuangkan. Dengan persiapan alakadarnya, saya bahagia bisa merasakan indahnya dunia. Pahit manis diteguk bersama. Saat sengsara, segera mencari bahagia. Saat bahagia, jangan lupa berbagi sesama. Harapan itu harus tetap terjaga. Jika berpuasa, maghrib adalah harapannya. Jika kuliah, wisuda adalah impiannya. Jika menikah, tidak boleh berakhir di dunia. Kebersamaan itu harus terbawa sampai ke surga. Alangkah indahnya hidup bersama.

Ada moment dimana saya terperanjat dengan UAS, saudara kita dari surga. Ia bercerita sambil “bangga” bahwa ia telah bertemu dengan banyak orang-orang besar dari seantero negeri. Apa maksudnya? Semoga saja tidak terselip rasa riya dan sum’ah, karena jangan sampai mereka menyelinap ke dalam “dada” kita. Namun dugaan itu dijawab UAS dengan sempurna. Merekalah saudara-saudara kita, yang berjasa membesarkan kita, membantu perjalanan hamba-Nya, dipercaya oleh Allah SWT untuk menjadi jembatan kekuasaan-Nya, mempromosikan kasih sayang-Nya.

Jadi, dunia ini akan menjadi sempit jika dimakmurkan dengan ketersinggungan, kemarahan, atau keangkuhan. Senyum pun menjadi sirna. Kita tak akan disebut orang kaya kalau tidak ada orang miskin. Kita juga tidak mungkin pintar kalau tidak dibantu oleh orang-orang “bodoh”. Bisa jadi, kitalah yang bodoh, karena tidak tahu bahwa kebersamaan adalah sunnatullah. Adapun kesendirian hanya menggembirakan setan, duduk di persimpangan, menghadang jalan kebaikan. Setelah itu, kita malah menggendong setan, mendukung individualism untuk digembor-gemborkan, “Akulah… Akulah… Akulah…”

Ingat, hidup kita bukan karena gaji atau bangga bisa meng-gaji, bukan pula karena nominal yang hampir setiap hari diterima. Apalagi merasa serba bisa. Dari setiap piring yang kita makan, ada banyak saudara yang memberi peran. Mereka ikhlas, tidak meminta disebutkan. Ada tukang masak. Ada penyaji yang mengambil-antarkan. Ada pemikul beras dan bahan makanan. Ada perantara sehingga dipertukarkan. Ada petani yang rela merugi. Ada air yang menghidupi. Ada matahari yang menyinari. Apa kamu lupa, di balik itu, ada Sang Maha sebagai produser dan sutradara. Lantas, dengan seratus ribu kita menjadi sombong?

Ayolah, kembali ke masa depan. Hari dimana hanya ada dua pilihan keabadian: tersiksa selamanya, atau bahagia tak ada hentinya. Anda boleh meragukan, dan sangat boleh meniadakan. Tapi silahkan pikirkan. Ketika uang sudah di tangan, dengan nominal tak berkesudahan, berbahagiakah Anda di hari ini? Sebahagia-bahagianya? Apakah kebahagiaan itu akan terus dirasakan? Sampai besok? Besoknya besok? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan? Yakinkah Anda bahwa bahagia Anda karena nominal uang? Bilamana uang tidak di tangan, masih bisakah kita merasakan kebahagiaan? Jangan sampai Tuhan kita adalah uang, karena di masa depan, ukuran kebahagiaan adalah pengakuan Allah dan kebersamaan.

Dalam iklan itu, si suami merasa ‘tersiksa’ karena serangan istrinya tak henti-henti. Sementara istri merasa bahagia, karena harapannya semakin terpenuhi. Mereka terus berupaya, dan mencoba berinteraksi dalam harapan. Si istri berharap diwujudkan. Sang suami berharap dibatalkan. Keduanya bertukar tekanan dalam koridor kebersamaan. Keduanya harus tetap berpegangan tangan, meskipun ada dorongan. Berbahagialah dengan ‘kecukupan’, yang akhirnya mewarnai fragmen kehidupan.

‘Pas’ itu memiliki arti yang istimewa. Ukuran itulah yang dikehendaki Sang Maha Kuasa. Rasul juga melarang sahabatnya yang berpuasa tak ada “bukanya”, tak menikah karena takut ibadahnya terlunta-lunta. Laksanakan semua urusan dunia, kemudian sandarkan kepada Kuasa Allah Ta’ala. Kerjakan semua aktivitas secara tuntas. Ajak semua potensi yang melekat pada diri kita: pikir, tenaga, dan jiwa. Lakukan secara bertenaga, setelah dipola pikir secara seksama, dan divalidasi dengan jiwa. Akhirnya, kita akan mengakui bahwa ketenangan dan ketenteraman hanya datang dari Allah SWT.

‘Pas’ itu tidak lebih dan tidak kurang. Jika bertemu dengan kelebihan, segera berikan kepada yang membutuhkan. Jika kekurangan, segera berlomba ke level keseimbangan. Para hamba yang berserah dalam Islam, segera bertemulah dalam kesadaran. Setelah itu, perkuat pondasi dengan keimanan, dan sempurnakan ‘amalan dengan ihsan. Akan lebih indah apabila dikerjakan secara berbarengan, dimana beban diangkat bersama-sama. Kesombongan itu akan dimintakan pertanggungjawaban. Apalagi jika kesombongan itu dalam bentuk kemiskinan. Ruginya tak terperikan.

‘Pas’ itu bermakna cukup, diantara kemiskinan dan kebanggaan karena kekayaan. Siapa merasa kaya, ingatlah Nabi Sulaiman a.s., atau ‘Utsman ibn ‘Affan r.a. Siapa merasa papa, merasa menderita dan paling miskin sedunia, ingatlah Nabi Ayyub a.s. yang teruji dari “kesengsaraan”. Hidup kita harus stationer, tidak lemah dan tidak keras. Namun selalu siap untuk bekerja cerdas dan ikhlas. Hikmahnya, kita tidak akan berlebih-lebihan dalam hidup, dan akan selalu berjuang dalam kebaikan. Di titik itulah manusia akan bertemu dengan kebahagiaan. Titik pertemuan hamba-Nya dengan Sang Tercinta. Itulah kunci masuk surga, yang diumumkan oleh Allah dalam al-Qur’an.

Ingatlah, Allah tidak minta dibahagiakan. Allah hanya minta diingat dan tidak diusir dari “otot kerongkongan”. Bahagiakan diri sendiri dengan tidak merusak diri. Manusia adalah makhluk terbaik, juga umat terbaik. Manusia sangat dihormati dan dicemburui malaikat. Mereka yang hormat, akan senantiasa bersama kita dalam suka maupun duka. Mereka yang cemburu, akan berusaha menghalangi dan membisikkan di jiwa, supaya kita berjauh-jauhan dengan Sang Pecinta. 

Beruntung sekali kita memiliki cermin, dari masa silam, juga dari masa depan. Sejarah ayah-ibu kita, para tetangga, dan sanak saudara. Sejarah Negara dan bangsa, perjuangan para pahlawan, termasuk kerajaan dan istana. Sejarah para pendahulu kita, yang rela mengorbankan segalanya demi “tegaknya” kebenaran. Itu tertulis dalam konsideran, “Atas berkat rahmat Allah SWT”. Dari hitam-putih mereka, kita bisa menyusun cermin untuk keselamatan masa depan. Tidak Allah ciptakan semesta dan seisinya untuk sia-sia. Allah ciptakan mereka untuk hak dan bersemangat dalam hak.

Beruntunglah orang-orang yang disayang oleh Tuhan, dan terus menerus mendapatkan pendampingan. Ketika yang kita cintai mendampingi perjalanan, ada rasa bangga dan bahagia. Hidup kita menjadi sangat terukur dan teratur. Takkan ada berlebihan dan kesia-siaan. Kita tidak dikhawatirkan dengan gambaran masa depan. Bahkan, kita semakin tidak sabaran untuk segera berada di masa itu. Harapan itu begitu menggelora, karena ingin segera melampaui batas dunia. Apalagi, menurut Ahmad Albar, dunia ini hanyalah panggung sandiwara.

Cermin dan keberuntungan telah dipasangkan Allah dalam al-Qur’an. Adapun dalam kenyataan, banyak cerminan tapi sedikit yang mengambil pelajaran. Ada cermin dari Siti Maryam dan Luqman. Ada juga cermin dari kaum Fir’aun, ‘Ad, Tsamud, dan Quraisy. Demikian pula Ashhabul Kahfi, dan banyak lagi. Manusia hari ini terliputi oleh gelap yang terlihat terang. Mereka tidak menerima kebahagiaan, dan kebanyakan memilih kesenangan. Misalnya khamr. Manusia sudah tidak sabar ingin segera icip-icip di dunia. Padahal Allah telah sediakan khamr di surga. Tidak tertarikkah kita dengan lambaian bidadari dari surga?

Kebahagiaan itu akan benar-benar terasa ketika sudah sampai di terminal akhir. Di tempat itu, hadiah sudah menunggu. Segala susah payah, selama dalam perjalanan, berakhir sudah. Di titik itu, kita hanya disibukkan dengan kebahagiaan dan berbagai kenikmatan. Kita boleh meminta apapun yang dahulu (di dunia) tidak diperbolehkan. Adakah hadiah yang lebih baik dari surga dan seisinya? Memang, ini hanya privilege bagi orang-orang tawakkal dan keyakinannya terpelihara.

Mereka adalah yang menyadari bahwa gajian yang paling nikmat dan paling ditunggu-tunggu (oleh pengembara dunia) adalah gajian kerelaan (ridlo) dari Allah semata. That is the real ultimate goal. Selain itu, hanyalah pernak-pernik kesenangan. Levelnya jauh sekali, seperti kerlap-kerlip di malam gelap. Jika pemilik semesta ini sudah rela, Dia akan mengabulkan segala permintaan kita. Las Vegas? Segitiga Bermuda? Laudya Chyntia Bella? Santa Barbara? Hotel Alexis? Adakah yang lebih berharga dari itu? Dia akan memberikan segalanya untuk hamba yang bertaqwa. Tapi ingat, itu tidak diberikan di dunia.

Kuntu dlo’iifan wa Allah a’lam


© Google Advertising di televisi, periode minggu III November 2017, negosiasi pasangan suami istriuntuk merencanakan perjalanan. 

*Mahasiswa S3 jurusan Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Suska Riau (guscholis@gmail.com)



Kolom Mahasiswa Lainnya :