Perpanjangan Penerimaan MABA Gel. I TA. 2018/2019 Pascasarjana UIN Suska Riau 14 Agustus 2018 s.d 27 Agustus 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
PRAKTIK MALU TERBALIK
Mahasiswa : H. Johar Arifin, Lc., MA
Tanggal Posting : 25 Oktober 2017
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, M.Pd

Seorang pegawai kantor menolak uang suap, dia merasa malu melakukan hal itu, lama-kelamaan pegawai ini dikucilkan rekan sekantornya karena mereka beranggapan pegawai ini tidak  bisa dibawa kerjasama. Lain lagi dengan seorang gadis yang berbusana muslimah, berpakaian rapi menutup auratnya, merasa malu dihadapan Allah demi menjaga kehormatannya, kadang wanita ini kerap kali mendapat cemoohan dari wanita lain, dianggap tidak mengikuti tren, tidak modis dan sederet kata-kata yang melemahkan dirinya.Begitu juga seorang wanita merasa malu menuliskan bahwa dia seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) ketika mengisi identitas diri untuk membuat KTP. (*Johar)

Kejadian diatas menggelitik kita betapa sifat malu sudah mulai luntur dan bahkan hilang ditengah kehidupan masyarakat.Masih banyak lagi kejadian sehari-hari yang kita lihat akibat salah persefsi terhadap sifat malu.Kata malu dalam bahasa arab dikenal dengan istilah al-Haya’, kata ini sebenarnya sudah dikenal jauh sebelum Rasulullah Saw lahir, para Nabi dan Rasul terdahulu sudah mentradisikan dan membudayakan sifat malu ini dalam keseharian mereka yang termasuk satu dari sekian banyak warisan akhlak mulia yang mereka berikan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini dijelaskan Beliau dalam sebuah hadis dari Abu Mas’ud Ukbah bin Amru al-Anshari, RasulullHah Saw bersabda : “Sesungguhnya ungkapan yang telaih dikenal orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah :  Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka” HR. Bukhari, Abu Daud, Imam Ahmad dan Ibnu Majah

Para Nabi dan Rasul memiliki kesatuan visidalam berdakwah yaitu menyeru kepada mentauhidkan Allah Swt, meskipun syariat mereka terdapat perbedaan antara satu Nabi dengan Nabi setelahnya.Menurut para ulama, sifat malu selalu berontak kepada sifat-sifat tercela, pantang menolak kebenaran, dan takut mengebiri hak-hak orang lain. Ia selalu cenderung mengikuti seruan petunjuk Rasulullah Saw melalui hadits-haditsnya. Selalu melakukan kebaikan dan menghargai pelaku kebaikan.Ia selalu menunjukkan sikap dan tindakan yang berguna bagi kemaslahatan orang banyak.

Setiap muslim dan muslimah mesti menumbuhkan sifat malu ketika hendak melakukan hal-hal yang dilarang Allah Swt, malu melakukannya dihadapan manusia dan yang lebih dalam dari itu adalah malu dihadapan Allah Swt. Hakekat malu itu sendiri telah dijelaskan oleh baginda Rasulullah Saw dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Mas’ud Rasulullah Saw bersabda : “malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, kami berkata Ya Rasul Alhamdulillah sesungguhnya kami memiliki sifat malu, Beliauberkata bukan seperti itu tetapi malu kepada Allah adalah bahwa kamu menjaga kehormatan mu, menjaga perut dan segala keinginannya, dan untuk mengingat kematian dan cobaan dunia, barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah dia meninggalkan kemegahan dunia , siapa yang melakukan demikian maka sungguh dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu” HR. Imam Tirmizi

Sifat malu merupakan karakter dan kekuatan sebuah bangsa, jika sifat malu telah hilang maka secara perlahan hilanglah kebaikan pada diri seseorang dan tanpa terasa akan merusak tatanan kehidupan masyarakat, lalu terjadi penurunan dan kemerosotan karaktek, kemudian muncullah ketidak nyamanan dalam pengelolaan harta benda dan penghargaan terhadap kehormatan manusia.

Sabda Rasul diawal pembahasan diatas “Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka” kata perintah disini tidatklah maknanya seperti perintah biasa yang wajib atau keniscayaan untuk melakukannya. Ibnu Rajab Hambali dalam kitabnya Jami’ Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kata perintah pada hadis diatas terdapat dua pengertian :

Pertama;Perintah bermakna Ancaman dan peringatan keras (Littahdid wal Wa’id), Allah Swt mengancam orang-orang yang tidak memiliki rasa malu lagi, mereka akan melihat akibat perbuatan mereka di akhirat nanti, dalam hal ini Allah Swt berfirman“Buatlah sesukamu, sesungguhnya Allah Swt maha melihat apa yang kamu perbuat”  QS. Fushilat : 40

Kedua;Kerjakanlah perbuatan baik (ma’ruf) tanpa ada rasa malu, karena sifat malu tersebut mengantarkan pelakunya kepada kebaikan.

Malu Formalitas

Bentuk malu yang hanya secara formalitas, pembungkus luar saja, yang hanya mengharap kesenangan manusia sangat banyak kita ditemukan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari kehidupan rakyat kecil hingga para pejabat dan pengusaha.Banyak slogan-slogan pemerintah yang dibungkus dengan bingkai formalitas pada hakekatnya mereka malu mengutarakankeadaan realita sebenarnya, kadang pemerintah menutup-nutupi dan terkesan malu menjelaskan dan menyampaikan kasus-kasus yang memang harus dituntaskan bahkan dimusnahkan, katakanlah seperti kasus busung lapar, kemiskinan dan sederet penderitaan rakyat lainnya.

Sebenarnya kita tidak perlu malu tentang kondisi kita danapa yang terjadi disekeliling kita, pemerintah tidak perlu malu mengatakan yang sejujurnya, sekolah-sekolah tidak perlu malu mengutarakan kondisi riil murid-muridnya. Kita sebenarnya tidak perlu mencari muka kepada siapanpun, ntah kepada atasan, mertua dan siapa saja. Karena sesungguhnya rasa malu yang dibungkus dengan bingkai formalitas tidak bisa bertahan lama, maka tanamkanlah sifat malu secara batiniyah yaitu malu bahwa apapun yang telah kerjakan, yang sedang dikerjakan bahkan yang akan dikerjakan diperhatikan dan disaksikan Allah Swt. Sebenarnya inilah makna Ihsan yang ajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw dalam hadis berasal dari Umar bin Khattab ra Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang Ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau”.HR. Muslim. Sikap Ihsan akan mampu menumbuhkan rasa malu seseorang kepada Zat yang maha agung Allah Swt, dengannya akan melahirkan sosok pekerja keras, produktif, amanah, jujur dan propesional.

Praktik Malu Terbalik

Kebanyakan hari ini orang mempraktikkan sifat malu secara terbalik. Banyak orang yang malu belajar Al-Qur`an lantaran takut dianggap tradisional. Banyak wanita yang malu mengenakan busana Muslimah karena takut dicap tidak modis. Banyak orang yang malu menegur orang yang sedang berpacaran di muka umum karena takut dibilang tidak modern, banyak orang malu mengatakan kebenaran dengan alasan takut dijauhi masyarakat, seorang wanita malu mengatakan bahwa dia seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) padahal pekerjaan tersebut sangat mulia ketimbang dia keluyuran diluar rumah dan masih banyak lagi praktik malu terbalik yang ditemukan ditengah masyarakat.

Jadi, bila ada orang yang tidak malu menerima uang sogok, tak malu meminta upeti pada rekan bisnisnya, tak malu memperlihatkan auratnya, tak malu berkata dusta, tak malu mengambil hak orang lain, tak malu memfitnah, tak malu memutarbalikkan fakta, dan tak malu berbuat negatif, berarti ia telah kehilangan sebagian dari imannya.Rasulullah Saw sebagai teladan manusia memiliki sifat malu yang sangat tinggi.Abu Said Al-Khudri berkata, "Adalah Rasulullah Saw sangat tinggi rasa malunya.Lebih pemalu daripada gadis pingitan.Bila beliau tidak menyenangi sesuatu, kami dapat mengetahuinya pada raut wajah beliau" HRMuslim.

Praktik malu terbalik inilah yang tidak mendatangkan kebaikan baik bagi dirinya maupun untuk masyarakat.Padahal Rasulullah Saw menegaskan, "Sifat malu tidak mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan" HR. Muttafaqun `alaih.Dalam hadits lain dikatakan, "Sifat malu seluruhnya mengandung kebaikan" HR Muslim.Jadi, bila sifat malu yang kita praktikkan berefek negatif bagi diri atau masyarakat sekitar, berarti kita salah dalam mempraktikkan sifat malu itu.

Sebagai seorang Muslim, tentunya kita harus melatih dan mempraktikkan sifat malu dalam kehidupan bermasyarakat secara positif dan benar.Kesalahan besar bagi kita sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw.kita tak pernah berusaha menumbuhkan rasa malu di dalam diri kita baik terhadap orang lain apalagi terhadap Allah Swt.

Al-Quran telah mengabadikan sosok Bani Israel yang telah kehilangan rasa malunya bahkan Allah cabut rama malu dari diri mereka. Ketika Allah melimpahkan karunia tumbuh-tumbuhan dan rezki yang melimpa, lalu mereka kufur nikmat bahkan membangkang terhadap Rasulnya, sehingga hilanglah perasaan malu mereka, kemudian mereka tanpa malu menyatakan bahwa mereka umat pilihan (Sya’bullah Mukhtar) selain mereka adalah hina, mereka merampas tanah rakyat Palestina, padahal tidak ada sedikitpun hak milik mereka ditanah tersebut, jutaan nyawa berguguran, jutaan rumah hancur, jutaan anak-anak terlantar tidak bisa menikmati alam kemerdekaan. Jangan sampai Allah Swt mencabut perasaan malu dari diri kita, semoga,…………………

*Mahasiswa S3 jurusan Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Suska Riau (johararifin495@gmail.com)



Kolom Mahasiswa Lainnya :