DAFTAR HASIL SELEKSI PMB PASCASARJANA GEL. I TA. 2018/2019 [LINK S3] [LINK S2] 

situs ridho1991
Studi Kritis Terhadap Rukyat Global Versi Hizbut Tahrir Indonesia dalam Menetapkan Awal Ramadhan
Mahasiswa : Diat Kardiat
Tanggal Posting : 17 Februari 2015
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

Abstrak

Studi Kritis Terhadap Rukyat Global Versi Hizbut Tahrir Indonesia dalam Menetapkan Awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha

Diat Kardiat

 

Persoalan perbedaan awal puasa, Idul Fitri dan Idul Adha telah menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah. Walaupun perbedaan itu tidak menimbulkan masalah serius, tetapi masalah tersebut selalu menimbulkan ketidaktentraman di masyarakat. Jika tidak segera diatasi dapat berpotensi pada ukhuwwah Islam.

Jenis penelitian ini bersifat kepustakaan (library research), yang menggunakan sumber-sumber kepustakaan untuk membahas masalah-masalah yang telah dirumuskan. Metode ini dimulai dengan mengumpulkan data primer sebagai landasan dari penelitian ini dan menggunakan data-data lain yang berasal dari data sekunder yang berkaitan dengan tema penulisan ini, karena berdasarkan bidang kajiannya, jenis penelitian ini adalah penelitian hukum yang bersifat normatif. Data-data yang dihimpun terdiri atas bahan-bahan tertulis yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku, majalah, hasil penelitian, dan internet, yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan penelitian ini. Sumber utama dalam penelitian ini adalah data terkait metode Hizbut Tahrir dalam menetapkan awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha, seperti Mafahim Hizbut Tahrir karya Taqiyuddin al-Nabhani, Surat Edaran Hizbut Tahrir, Shumu li Ru’yatihi wa Afthiru li Ru’yatihi, 25 Sya’ban 1419 H (14 Desember 1998), Pernyataan  Hizbut  Tahrir  Indonesia, Perbedaan Penetapan Idul Adha 1431 H, Nomor: 188/PU/E/11/10, dan lain-lain.

Hasil penelitian ini adalah bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memandang bahwa penentuan awal bulan Qamariyah tidaklah dilakukan kecuali dengan ru’yahal-hilal, baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan alat, bukan dengan hisab. Ru’yah al-hilal yang dimaksud adalah ru’yah al-hilal yang berlaku global (berlaku untuk seluruh kaum Muslimin), bukan ru’yah al-hilal yang berlaku secara lokal atau regional atas dasar konsep mathla’. Khusus untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah. Mengenai penetapan awal bulan Qamariyah dengan cara ru’yah global atau berpatokan kepada wilayah Makkah sebagai pemegang keputusan menurut analisis astronomis dan geografis tidak bisa dibenarkan. Alasannya adalah karena secara geografis Indonesia berbeda koordinatnya dengan Makkah, baik bujur maupun lintangnya. Metode HTI dalam  menentukan Idul Adha dengan berpedoman ru’yah al-hilal penguasa Makkah merupakan metode yang tidak dapat dijadikan suatu referensi atau acuan dalam menentukan awal bulan Qamariyah atau penentuan awal puasa, atau penentuan hari raya besar umat Islam (Idul Fitri dan Idul Adha). Pelaksanaan ru’yah al-hilal dilaksanakan sesuai dengan situasi lokal wilayah masing masing, sehingga daerah yang jauh hasilnya akan berbeda ru’yah al-hilal yang menjadi patokan adalah ru’yah al-hilal penguasa Makkah, bukan ru’yah al-hilal secara mutlak.

 



Kolom Mahasiswa Lainnya :