Jadwal Penerimaan Mahasiswa Baru Gel. II TA. 2017/2018 pada 13 Nopember 2017 s.d 19 Januari 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
Pemikiran Taqiyuddin an- Nabhani Tentang Pengaturan Interaksi Sosial Pria dan Wanita Di Tempat Kerj
Mahasiswa : Muhammad Kamalin
Tanggal Posting : 3 Februari 2015
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, S.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRAK 

Muhammad Kamalin, SH.I,  “Pemikiran Taqiyuddin an- Nabhani Tentang Pengaturan Interaksi  Sosial Pria dan Wanita Di Tempat Kerja”. Tesis Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2014.

Kata kunci: Pengaturan, Interaksi , pria dan wanita

Pertemuan pria dan wanita di masyarakat dan di tempat kerja dapat menimbulkan masalah hukum, sehingga memerlukan pengaturan interaksi. Hal ini jelas memerlukan sistem yang mengaturnya. Sistem itulah yang dimaksud oleh Taqiyuddin an- Nabhani dalam karya beliau Nizham al-ijtima`i fi al- Islam, yaitu sistem yang mengatur pertemuan pria dengan wanita, mengatur hubungan yang muncul dari pertemuan keduanya dan apa saja yang terderivasi dari hubungan itu.

Taqiyuddin an- Nabhani, dalam karya beliau ini, menampilkan pengaturan interaksi sosial pria dan wanita. Oleh karena itu, pengaturan interaksi pria dan wanita ditempat kerja harus dikaji secara menyeluruh dan mendalam. Karya Taqiyuddin an- Nabhani ini dibangun di atas sejumlah pandangan dasar, yaitu: pertama pandangan tentang fitrah pria dan wanita. Islam memandang bahwa Allah swt menciptakan manusia, baik pria dan wanita dibekali dengan fitrah yang sama, yaitu adanya kebutuhan fisik dan naluri yang sama, juga sama-sama memiliki potensi akal. Keduanya berkewajiban menunaikan shalat, puasa, zakat, haji dan berbakti kepada orang tua, mendakwahkan Islam. Kedua pandangan tentang status hukum hubungan pria dan wanita, pertemuan pria dan wanita dalam rangka kerja sama di tengah-tengah kehidupan, seperti dalam perdagangan, pendidikan, ijarah dan politik. Hal itu merupakan hal keniscayaan untuk merealisasikan kemaslahatan keduanya dan masyarakat pada umumnya. Karena itu, pertemuan dan interaksi tersebut harus dilakukan dengan pandangan dasar dan pengaturan kerjasama yang melahirkan kebaikan bagi masyarakat  dan individu, menjamin realisasi nilai-nilai luhur dan keridhaan Allah swt. Ketiga kedudukan pria dan wanita di hadapan taklif syara`. Syariat Islam membebankan taklif atas manusia tanpa memandang dari jenis kelaminnya. Saat muncul masalah yang berkaitan dengan kodrat kemaskulinan atau kefemininan, syariah mendatangkan taklif hukum sesuai dengan kodrat itu. Syariat misalnya, mendatangkan taklif dan hukum tentang posisi, peran dan tanggung jawab kebapakan hanya kepada pria sementara yang berkaitan dengan posisi keibuan hanya kepada perempuan.

Berdasarkan pandangan itu, lalu dirumuskan aktivitas wanita semata-mata berdasarkan seruan nash tanpa memandang persamaan atau ketidak samaan antara pria dan wanita. Dirumuskannlah bahwa aktivitas pokok perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbah al bayt) meski ia boleh bahkan dalam kadar tertentu wajib melakukan aktivitas lain yang telah digariskan syariat seperti berdakwah, menuntut ilmu dan sebagainya sebagaimana pria; wanita juga boleh menjalannkan berbagai aktivitas muamalah seperti bekerja, berbisnis, berdagang, berorganisasi dan aktivitas sosial lainnya.

Namun demikian, perlu juga dipertanyakan, bagaimanakah pengaturan interaksi pria dan wanita ditempat kerja di antara Ulama yang membahas secara khusus adalah Taqiyuddin an- Nabhani, hal-hal apa sajakah yang boleh dalam berinteraksi menurut Taqiyuddin, Mengapa Taqiyuddin an- Nabhani membuat pengaturan interaksi pria dan wanita ditempat kerja. Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas, penulis mengumpulkan data yang diperlukan dengan cara mengadakan penelaahan literatur pemikiran- pemikiran Taqiyuddin an- Nabhani. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan. Metode yang penulis gunakan dalam menganalisa data adalah metode deskriptif analistik. Penelitian diarahkan pada penelaahan dan pembahasan teori-teori yang diterima keabsahannya dalam literatur ilmiah, dan yang ada relevansinya dengan masalah yang hendak dikaji yakni "pemikiran Taqiyuddin an-Nabhani tentang pengaturan interaksi pria dan wanita di tempat kerja".

Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa masalah interaksi pria dan wanita, kaum muslim berada dalam tarikan dua pandangan yang saling berlawanan. Pertama mereka yang menjiplak semua yang berasal dari Barat, termasuk interaksi pria dan wanita. Mereka menyerukan kebebasan pribadi, kebebasan wanita. Kedua, mereka yang bersikap dan melarang perempuan keluar rumah, berdagang, berbisnis, bekerja, berpolitik dan ikut andil dalam kehidupan sosial.

Keduanya sama-sama berakibat buruk. Pendapat pertama kebablasan; melahirkan masyarakat bebas. Pendapat kedua mengakibatkan potensi perempuan tersia-siakan, lahir kejumudan, kemunduran, pemberontakan perempuan. Sementara menurut taqiyuddin an- Nabhani bahwa pertemuan antara pria dan wanita adalah merupakan keniscayaan dalam kehidupan sosial (masyarakat). Dan mereka dapat bekerjasama sehingga terwujud kemaslahatan bagi masyarakat. Bagi seorang wanita boleh (mubah) dan boleh ikut dalam kehidupan sosial, seperti, berdagang, menuntut ilmu, bekerja, berbisnis, berorganisasi, berdakwah dan berpolitik asal menurut aturan syariat Islam. Dikarenakan Taqiyuddin an- Nabhani telah merumuskan pengaturan interaksi pria dan wanita dalam Islam, dan Taqiyuddin an- Nabhani hidup pada abad modern ini.

 



Kolom Mahasiswa Lainnya :