DAFTAR HASIL SELEKSI PMB PASCASARJANA GEL. I TA. 2018/2019 [LINK S3] [LINK S2] 

situs ridho1991
Rekonstruksi Kaidah-Kaidah Fiqh Tentang Bid`Ah dalam Fiqh Ibadah
Mahasiswa : M. Ridwan Hasbi
Tanggal Posting : 28 Januari 2015
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, M.Pd

H.M. Ridwan Hasbi, Lahir di Dalu-Dalu Kecamatan Tambusai (Kab. Rokan Hulu), pada tanggal 17 Juni 1970. Anak dari pasangan Anas Abbas (alm) dan Hj. Netty Herawati, yang merupakan anak keempat dari Sembilan bersaudara; Kakak: Ir.Hj.Tinda Arastina, Hj.Darna Yulis, SE, dan Khairani, Adik: Dr.Maria Erna, M.Si, Serka TNI AD M.Syafi`i Zuhri, Nurfitri, SP, Rahmat Hidayat, S.Hut, M.Si dan H.Rahmat Taufik, Lc, M.Sy.

Bermastutin di Jln Hangtuah Ujung Pondok Modern al-Kautsar dengan didampingi istri tercinta: Asmiah, S.Ag, dengan anak-anak yang mengisi relung hati: Fakruddin, Ridho Mabrur, Lavi Regia dan Muhammad Rafah.  

Menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (MTs) di Dalu-dalu Tambusai, selanjutnya meneruskan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor Jawa Timur alumni pada tahun 1991. Pada tahun 1992 melanjutkan pendidikan kejenjang S1 di Fakultas Syariah wa al-Qanun dalam bidang Syariah  UNIVERSITAS AL-AZHAR Kairo Mesir dan tamat pada tahun 1997. Dan pada tahun 1998 melanjutkan pendidikan S2 di IAIN Susqa Riau dengan konsentrasi Pemikiran Modern Dalam Islam (PMDI) dan selesai pada tahun 2000. Pada tahun 2010 meneruskan pendidikan S3 program Doktor hukum Islam di UIN Suska Riau dan insya Allah selesai tahun 2015.

Pengalaman kerja yang pernah dijalani mencakup Guru di Pondok Pesantren al-Munawwarah (1998-1999), Guru di Pondok Modern al-Kautsar dari tahun 1998 dan pernah menjabat pimpinan  pesantren selama empat tahun (2005-2008). Dosen di Fakultas Agama Islam UIR (2000-2010) dan STAI Diniyah (2003-2009). Mengajar di UIN Suska dari tahun 2000 sampai sekarang dan sebagai Dosen tetap di program studi Tafsir Hadits pada Fakultas Ushuluddin UIN SUSKA Riau.

Aktifitas organisasi diantaranya: Komisi Fatwa MUI Riau (1999-2004) dan aktif di MUI Kota Pekanbaru sebagai Sekretaris Umum 2001-2011 dan Ketua II 2011 sampai sekarang, serta di FKUB Kota Pekanbaru dari tahun 2006 sampai sekarang. Bergabung dalam muballigh MDI Kota Pekanbaru dan Ittihadul Muballighin Riau. Disamping itu berkiprah di LDNU, BKPRMI, BKSPPM, IKPM Riau dan lainnya.

Diantara karya ilmiah yang pernah ditulis dalam beberapa jurnal adalah: Membangun Bank Islam Merambah Kemajuan, Realitas Kafir Dan Takfir Terhadap Aliran Sesat, Fenomena Mujtahid Takhrij Hadits, Membingkai Ayat-Ayat Jihad Perang Dalam Kerukunan Umat Beragama, Realitas Kemasyarakatan Dalam Perspektif Hadits, Elastisitas Hukum Nikah dalam Perspektif Hadits, Relevansi al-Khilaf al-Fiqhi dan Toleransi  (Analisis Toleransi Antar Umat Islam Dalam Fiqh), al-Takyif al-Fiqhi Dalam Fiqh Nawazil,  Paradigma Shalat Jum`At Dalam Hadits Nabi, Proyeksi Al-Quran Terhadap  “Lahm Al-Khinzir” (Tela`Ah Makna Dan Realitas  Antara Konsumsi Dan Pemanfaatan Babi), Interaksi Rasionalitas teknis dalam pemikiran hadis kontemporer, Proyeksi al-Quran terhadao Lahm al-Khinzir ((Tela`ah Makna dan Realitas Antara Konsumsi dan Pemanfaatan Babi) dan Niali-Nilai Oposisi Dalam Hadis Nabawi. Karya lainnya adalah berupa buku, baik bersifat individu atau kolektif: Perspektif Mudharabah Menuju Perbankan Syariah, Peta Dakwah Kota Pekanbaru: Kekuatan, Kelemehan, Peluang Dan Ancaman, Ruqyah Menurut al-Quran Dan Sunnah Rasulullah SAW, Bunga Rampai Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hamil Duluan Nikah Kemudian?.   Dan beberapa penelitian akademis yang diikuti, diantaranya: Kritik Matan Dalam Kontekstualisasi Atas Hadis-Hadis Misoginis, Dialektika Makna ”Lahma al-Khinzir” Dalam al-Quran dan Hadis, Memahami Hadis-Hadis Bid`ah (Secara Kontekstualisasi), Rasionalitas Dan Religiusitas Kaum Pedagang Di Pedesaan Pasar Teratak Buluh Kampar, dan Perspektif Hadis Nabawi Dalam Nikah Married By Accident (MBA): Tinjauan Sadduz Zari`Ah Dan Fathuz Zari`Ah.

 

REKONSTRUKSI KAIDAH-KAIDAH FIQH

TENTANG BID`AH DALAM FIQH IBADAH

I

Ungkapan yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dilandaskan pada surat al-Maidah ayat tiga, sehingga sebagian kelompok umat Islam menjadikannya pondasi pemikiran dalam isu yang sangat sentral menolak terhadap hal-hal yang belum ada pedoman sebelumnya. Kesempurnaan Syariat Islam ini berkembang menjadi diskursus yang luas mencakup kata “kâmil” atau ”mutakâmil” berarti sempurna, dan juga “shâmil” berarti komprehensif.

Rasulullah SAW secara umum melarang melakukan perbuatan bid`ah, terutama dalam persoalan ibadah serta larangan bid`ah sangat ketat. Satu sisi Rasulullah SAW secara umum menganjurkan ijtihad dalam hal-hal yang tidak ada nash. Realisasi ijtihad berkaitan dengan istishlȃh, istihsȃn, sadd al-zari`ah, fathu al-zari`ah dan lainnya. Ibadah secara umum disusun ulang para ahli fiqh dengan penetepan konstruksi yang simpel dan fleksibel, sehingga kaidah-kaidah bid`ah menebarkan kontroversial dan membuka peluang kajian al-taq`id al-fiqhy untuk kemaslahatan dalam menjernihkan kekeruhan pemahaman dan mencairkan kebekuan kelompok masyarakat Islam.  

II

Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan term bid`ah, dan perbedaan tersebut dapat dipetakan kedalam tiga kelompok; kelompok pertama yang menyatakan term bid`ah berkaitan dengan baik dan buruk serta berkorelasi dengan hukum taklifiyah, kelompok kedua yang menyatakan semua yang bertentangan dengan sunnah dan kelompok ketiga yang berapiliasi dengan pendapat imam al-Syatibi (w.790 H). Dari tiga pemetaan term bid`ah dapat diwujudkan sebuah defenisi yang mendudukkan bid`ah legal dan ilegal, yaitu:

التطبيق التعبدى على غير مثال سابق ولم يقم على الأدلة المتفق عليها أو المختلف فيها

Bid`ah adalah Praktek ibadah yang belum ada tuntunan sebelumnya dan tidak tegak diatas dalil yang mufakat atau mukhtalaf

Bid`ah legal mencakup semua pedoman dan tuntunan dari Rasulullah SAW, berlaku masa sahabat dan tabi`in, serta berdasarkan dalil naqli dan `aqli baik sepakat ulama atau berbeda dalam menjadikannya sebagai sandaran istinbȃth hukum, sedangkan bid`ah ilegal berkaitan dengan semua yang bertentangan dengan legal.

Berdasarkan kerangka pemikiran dan terminologi bid`ah diatas, dapat penulis simpulkan tentang bid`ah yang legal dan ilegal sebagai berikut:  

 

No

 

BID`AH LEGAL

 

BID`AH ILEGAL

 

1

 

Ada pedoman dan tuntunan pada masa Rasulullah SAW

 

Tidak pernah diperbuat saat Rasulullah SAW hidup

 

2

 

Ada pedoman dan tuntunan pada masa Sahabat dan Tabi`in

 

Para Sahabat dan Tabi`in tidak melakukan perbuatan tersebut

 

3

 

Ada dalil naqli dan `aqli

 

 

Tidak ada dalil naqli dan`aqli tempat pijakannya

 

4

 

Ada dalil mufakat ulama sebagai sumber ketetapan hukum

 

Pijakan dalilnya hawa nafsu

 

5

 

Ada dalil berbeda ulama dalam menggunakannya sebagai sumber ketetapan hukum

 

Pijakan dalilnya daya nalar yang bersifat rasional liberal

 

III

Ketentuan pengertian ibadah dalam terminologi selalu merujuk kepada pemahamam substansi amaliyah yang dinamakan dengan ibadah, masalah ini tidak berhubungan secara khusus dengan bahasan fiqh ibadah yang terdapat dalam kitab-kitab fiqh. Hal itu merupakan ungkapan yang banyak diformat dalam bahasan ilmu tauhid tentang kewajiban seorang hamba Allah yakni ibadah.

Implementasi ibadah dalam terminologinya mencakup segala bentuk hukum, baik yang dapat dipahami maknanya (ma`qulȃt al-ma`na) seperti hukum yang menyangkut dengan muamalat pada umumnya, maupun yang tidak dipahami maknanya (ghairu ma`qulât al-ma`na), seperti thahȃrah (bersuci) dan shalat, baik yang berhubungan dengan anggota badan seperti ruku dan sujud maupun yang berhubungan dengan lidah seperti zikir dan yang berhubungan dengan hati seperti niat.

Realitas ibadah dalam Islam mencakup beberapa kriteria yang menetapkan perbuatan itu sebuah ibadah. Kriteria-kriteria sebuah perbuatan itu dikatakan ibadah adalah:

  1. Perbuatan itu hanya dikerjakan semata-mata karena Allah SWT. Semua perbuatan ataupun segala tingkah laku seorang manusia harus senantiasa dalam niat penyembahan kepada Sang Khalik. Maka seorang  manusia harus menghindarkan dirinya dari penyembahan kepada sesama manusia atau kepada yang lain, sebab perbuatan itu keluar dari ketentuan ibadah yang benar dan dianggap melakukan perbuatn syirik.
  2. Perbuatan itu merupakan hubungan yang langsung antara hamba dengan Allah SWT. Semua pendekatan diri kepada Allah SWT dalam ajaran Islam tidak mengenal perantara, atau lapisan tertentu sebagai penghubung kepada Tuhan.
  3. Perbuatan itu merupakan sebuah ketundukan yang penuh  dan ketaatan yang mutlak hanya kepada Allah SWT. Tolak ukur perbuatan itu dikatakan sebuah ibadah dalam Islam adalah melambangkan ketundukan seseorang sepenuhnya kepada Allah serta ketaatannya yang mutlak terhadap Allah yang menciptakannya.

IV

Kaidah fiqh tentang bid`ah dalam bidang ibadah terdapat 58 kaidah yang dirujuk kepada kitab : Qawâ`id Ma`rifah al-Bida` karya Muhammad ibn Husain al-Jizani, al-Bid`ah Wa Atsaruhȃ Fi Fasȃd al-Aqidah Wa al-Tashawwur al-Islamy karya Hamdi Abdullah Ahmad Abd Azim al-Sha`idy, Dhawâbith al-Bid`ah wa Qawâ`iduhȃ al-Ushûliyah wa al-Fiqhiyah karya Nazih Mahmud `Afwan Mahmud, Ilmu Ushûl al-Bida` karya Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abdul Hamid, dan Min Ushûl al-Fiqh `ala Manhaj Ahli al-Hadis karya Zakaria ibn Gulam Qadir al-Bakistani. Setelah ditela`ah terdapat beberapa kaidah yang orientasi dan redaksinya sama dan mirip sehingga tinggal 25 kaidah. Dari 25 kaidah diklasifikasikan menjadi 8 kelompok, yaitu: berdasarkan kedudukan dalil ada 5 kaidah, kedudukan hadits ada 2 kaidah, kedudukan akal ada 4 kaidah, kedudukan tradisi ada 3 kaidah, kedudukan kaifiat ada 4 kaidah, kedudukan sarana ada 2 kaidah, realisasi ibadah tarkiyah ada 2 kaidah dan masalah ghulû ada 3 kaidah.

Dalil dalam aplikasinya mempunyai peran dan fungsi. Peran dalil menetapkan keberadaan suatu pendekatan diri kepada Allah SWT yang bersifat legal, sedangkan fungsi dalil berputar pada poros Istbȃt (penetapan) dan nafyu (penidakan), yakni keberadaan suatu dalil akan mewujudkan amaliyah ibadah, tidak ada dalil maka tidak ada amaliyah ibadah. Kajian ini direfleksikan dalam sebuah kaidah:

العبادة تدور مع دليل وجودا وعدما

Ibadah berdasarkan pada dalilnya, baik ada atau tidak adanya

Legalitas dalil dalam sebuah perbuatan bid`ah berhubungan dengan sifatnya, yaitu khusus dan umum. Dalil yang bersifat khusus banyak terdapat pada ibadah mahdhah sehingga disaat pendekatan diri kepada Allah keluar dari ketentuan dalil tesebut, maka masuk kedalam bid`ah yang ilegal.

Pada tataran dalil yang bersifat umum, berupa anjuran dan tatacara pelaksanaan sebuah perbuatan belum ada tuntunannya, di samping itu terdapat fadilah  sebuah amaliyah tapi bentuk perbuatannya dikembalikan pada hasil ijtihad, maka perbuatan  bid`ah seperti ini direfleksikan dalam sebuah kaidah:

لا بدعة فى العبادة التي تستند الى دليل عام

Tidak bid`ah dalam ibadah yang berlandaskan pada dalil bersifat umum

Sumber munculnya suatu dalil mencakup naqli dan aqli. Dalil naqli pada wujudnya bersumber dari nash yaitu al-Quran dan hadits, tapi sebagian ulama memasukkan ijma`, mazhab shahȃbi dan syar`u man qablanȃ dalam dalil naqli sebab ia tidak menggunakan daya nalar. Aspek yang lain, dalil aqli yang menggunakan daya nalar dan pemikiran yaitu qiyȃs, dan sebagian ulama menggunakan istihsȃn, mashȃleh mursalah, istishhȃb, `urf, sadd al-zar`iah dan fath al-zar`iah.

Dalil naqli dan aqli dalam realisasinya diklasifikasikan menjadi dua; 1) dalil yang terdapat kesepakatan ulama mencakup dua kategori, dalil yang disepakati oleh ulama yaitu al-Quran dan hadits, serta dalil yang disepakati oleh mayoritas ulama yaitu ijma` dan qiyȃs. 2) dalil yang tidak disepakati oleh ulama yaitu istihsȃn, mashȃleh mursalah, istishhȃb, `urf, syar`u man qablanȃ, sadd al-zar`iah, fath al-zar`iah, dan  mazhab shahȃbi.

Konsekwensi dua klasifikasi dalil yang disepakati dan tidak disepakati oleh ulama dalam landasan istinbȃth menjadi pertimbangan terhadap suatu perbuatan yang belum ada pedoman sebelumnya adalah legal. Kaidah yang direfleksikan dalam perkara ini adalah:

الأدلة المتفق عليها و المختلف فيها فى الأمور التعبدية ليس ببدعة

Dalil yang disepekati dan yang berselisih ulama padanya dalam perkara-perkara ubudiyah bukan masuk kategori bid`ah

Pada Legalitas suatu ibadah yang berlandaskan pada dalil aqli berkonotasi dengan dalil yang bersifat pro dan kontra di kalangan ulama, sebab akibat dari multi interpretasi dan aktualisasi maqȃshid ajaran Islam. Akal bermain dalam qiyȃs, istihsȃn, mashȃleh mursalah, istishhȃb, `urf, sadd al-zar`iah dan fath al-zar`iah. Untuk mendudukkan peran akal direfleksikan dalam sebuah kaidah:

لا عبادة بالعقل المجرد حتى دل النص على تأكيدها

Tidak ada ibadah dengan dasar akal saja sampai ada nash yang menguatkannya

Daya nalar dan pemikiran dari akal dalam aplikasi sebuah perbuatan pendekatan diri kepada Allah dapat menjadi legal dengan adanya nash al-Quran, hadits, dan ijma` yang mendukung secara kontekstualisasi.

Hadits merupakan dalil yang disepakati ulama sebagai sumber hukum dan menjadi bagian dari penyokong dalil aqli dalam legalitasnya sebuah ibadah. Hal ini dikembalikan kepada hadits shahih dan hasan. Bila berkonotasi dengan hadits dha`if dan maudhu` direfleksikan dalam kaidah:

الأصل فى العبادة المستنبطة من الحديث الضعيف مقبول الا مادل الدليل على خلافه

Dasar semua ibadah yang bersumber dari hadis dha`if adalah diterima kecuali ada dalil yang bertentangan dengannya

الأصل فى العبادة المستنبطة من الحديث الموضوع مردود

Dasar semua ibadah yang bersumber dari hadits maudhu` adalah ditolak

`Urf merupakan sebuah dalil yang masuk dalam kategori dalil aqli yang sifatnya ikhtilaf antara ulama dalam menggunakannya sebagai landasan istinbȃth hukum. Dalam persoalan amaliyah pendekatan diri kepada Allah yang belum ada pedoman sebelumnya dan masuk dalam realitas tradisi atau kebiasaan antara legal dan ilegal, sebab hal itu dikembalikan dalam sebuah kaidah:

العادة محكمة

Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum

Pendekatan diri kepada Allah SWT dalam pelaksanaannya mencakup tatacara yang berkaitan dengan kaifiat pelaksanaan suatu ibadah, sarana dalam melakukannya dan ibadah tarkiyah.  

Pelaksanaan suatu pendekatan diri kepada Allah SWT yang sudah jelas bentuk tatacara melakukannya disebut dengan ibadah mahdhah. Sedangkan ibadah yang tatacaranya dikembalikan kepada pemikiran dan pemahaman disebut dengan ibadah ghairu mahdhah. Tatacara pelaksanaan suatu ibadah berhubungan dengan waktu pelaksanaan, tempat pelaksanaan, sifat ibadah, jumlah atau hitungan pelaksanaan, dan bentuknya. Dalam ibadah mahdhah perkara tatacara tidak dibolehkan merubah, baik menambah atau mengurangi sebagaimana direfleksikan dalam kaidah:

التغيير فى الزمن و المكان و الصفة و الكيفية فى عبادة محضة ممنوع

Merubah waktu, tempat, sifat, cara dalam ibadah mahdhah adalah dilarang

Ibadah yang dikategorikan ghairu mahdhah dengan cakupan yang banyak dan berdasarkan pada anjuran-anjuran yang bersifat umum, maka persoalan tatacara dikembalikan kepada masalah ijtihad. Legal dan ilegalnya perbuatan tersebut dikaitkan dengan kesyirikan, kezhaliman, atau berdasarkan pada perbuatan maksiat.

Ibadah yang bersifat gharu mahdhah dalam tatacara pelaksanaannya dianggap legal selama tidak masuk dalam perbuatan syirik, zhalim dan maksiat. Begitu juga sarana yang digunakan dalam pelaksanaannya harus jauh dari sarana yang diharamkan. Standar kaidah tidak melegalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, maka implementasi sarana ini direfleksikan sebagai berikut:

العبادة بالوسيلة المنهية تقتضي الفساد

Ibadah yang dilakukan dengan sarana yang dilarang berakibat fasad/rusak

Tatacara pelaksanaan ibadah dapat berupa perbuatan yang sudah ada pedoman sebelumnya dan dapat juga berupa perbuatan yang belum ada tuntunannya, tapi sifatnya tarkiyah.

Ketetapan kaidah tentang ibadah tarkiyah berkaitan dengan tatacara yaitu segala perbuatan atau perkataan yang berkaitan dengan pendekatan diri kepada Allah SWT yang bentuk dan pelaksanannya dikembalikan kepada ijtihad atas illat perbuatan tersebut. Ketentuan hukumnya dapat dipilah-pilah antara wajib, sunat, mubah, makruh dan haram. Realitas dan fenomena terhadap tarkiyah dengan illat yang terkandung didalamnya. Illat itu yang menjadi dasar kemungkinan-kemungkinan sehingga ketentuan hukumnya bermacam-macam. Refleksi kaidah itu adalah:

الترك يحتمل أنواع غير تحريم

Sesuatu yang ditingggalkan memungkinkan bermacam-macam (hukum) bukan haram saja

Ketentuan ibadah dalam tatacara pelaksanaannya ada juga yang bersifat ketat secara khusus ibadah yang wajib, dan ada juga yang bersifat luwes secara khusus ibadah yang sunat.  Kategori ibadah sunat mencakup banyak hal, seperti: puasa sunat, shalat qiyamullail sepanjang malam, bersedekah setiap hari, berzakat melebihi dari kadar wajib, baca al-Quran atau berzikir terus menerus dan lainnya.

Pendekatan diri kepada Allah SWT dalam hubungannya dengan ibadah sunat pada tataran tatacaranya tidak ada perubahan, namun pelaksanaannya dilakukan cukup banyak.  Memperbanyak ibadah yang belum ada tuntunan dari Rasulullah SAW tidak termasuk ilegal, selama dilakukan dengan kemampuan yang tidak menzhalimi diri sendiri atau orang lain. Legalitas ini dikembalikan kepada realitas pelaksanaan yang tidak berdampak pada kerusakan. Perkara ini direfleksikan dalam sebuah kaidah:

الاكثار في التعبد ليس ببدعة

Memperbanyak ibadah bukanlah perbuatan bid`ah

V

Rumusan kaidah-kaidah yang disusun dalam konstruksi al-taq`id al-fiqhy diimplementasi dalam al-takyif al-fiqhy mencakup inisiatif sahabat lalu ditaqrir Rasulullah SAW, prakarsa sahabat dan tabi`in sebagai sebaik-baik masa, pelaksanaan anjuran yang bersifat umum dan aktualisasi maqȃshid syariah. Implementasi kaidah direalisasikan dalam otoritas istihsȃn, mashȃleh mursalah, istishhȃb, sadd al-zar`iah  dan fath al-zar`iah



Kolom Mahasiswa Lainnya :