Jadwal Penerimaan Mahasiswa Baru Gel. II TA. 2017/2018 pada 13 Nopember 2017 s.d 19 Januari 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
Persetujuan Anak Perawan Untuk Dinikahkan Menurut Imam Ahmad Bin Hanbal (164 H/780 M 241 H/855 M)
Mahasiswa : Bustamar, S.Pd.I., M.H.I
Tanggal Posting : 27 Januari 2015
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, S.Pd

DATA PRIBADI

Nama                         : Bustamar

TempatTanggalLahir       : Padang Mutung, 03 Oktober 1982

Agama                        : Islam

Status                         : Kawin

Alamat                       : Dusun III Desa Terantang Kec. Tambang Kab. Kampar

Pekerjaan                   : Ka. TU MTsN Kampar

Nama Ayah                 : Bukhari (alm)

Nama Ibu                   : Bonsuini

Nama Isteri                : Nani Endrawati, S.Pd.I

Nama Anak                : 1. Syakira Permata Auliya

                                 2. Zhahira Berlian Auliya (almh)

                                 3. Tamara Fadhilah Auliya

 

ABSTRAK

Bustamar, NIM: 21293105263,“Persetujuan Anak Perawan Untuk Dinikahkan Menurut Imam Ahmad Bin Hanbal ( 164 H / 780 M – 241 H / 855 M ) Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah ( 691 H / 1292 M – 751 H / 1350 M ) Serta Relevansinya Dengan Konteks Kekinian”,di tulis dengan latar belakang bahwa dulunya kaum wanita biasanya dipingit di rumahnya sehingga mereka cenderung berwawasan sempit dan kurang mengenal dunia luar, maka kondisi sekarang kenyataannya bahwa kaum wanita adalah golongan yang berwawasan dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi pakar dalam disiplin ilmu tertentu. Di samping itu juga banyak terjadi di kalangan anak perawan yang dalam istilah Indonesia “kawin lari”. Hal ini disebabkan bakal calon suaminya pilihan dari orang tuanya, sehingga tidak sesuai dengan keridhaan sianak perawan. Dalam hal ini jumhur ulama, yakni Imam Malik, Imam Syafi`i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa persetujuan gadis hanya sekedar sunat, sedangkan menurut Imam Abu Hanifah bahwa persetujuan anak perawan harus ada dalam perkawinan. Jika tidak, maka akad nikah tidak boleh dilanjutkan. Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang notabenenya beraliran mazhab Hanabilah memiliki perbedaan pendapat dengan Imam bin Hanbal dan cenderung sependapat dengan Imam Abu Hanifah.

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dirumuskan dalam bentuk pertanyaan berikut ini:

  1. Bagaimana pendapat Imam Ahmad bin Hanbal danIbnQayyim al-Jauziyyah tentang persetujuan anak perawan dalam perkawinan?
  2. Apa yang menjadi landasan Imam Ahmad bin Hanbal dan IbnQayyim alJauziyyah tentang persetujuan anak perawan dalam perkawinan sertarelevansinya dengan konteks kekinian?    

Secara metodologis, jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library recearh), yaitu dengan cara mengkaji dan menelaah sumber-sumber tertulis dengan jalan mempelajari, menelaah dan memeriksa bahan-bahan kepustakaan yang mempunyai relevansi dengan materi pembahasan. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis komparatif, yaitu memaparkan konsep persetujuan anak perawan menurut pandangan Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibn Qayyim al-Jauziyah, kemudian menilai sejauh mana relevansi pemikiran keduanya dengan konteks sekarang.

Hasil akhir dari penelitian ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat persetujuan gadis hanya sekedar sunat, sesuai dengan jumhur ulama selain Imam Abu Hanifah, bahkan bapak sebagai wali bisa memaksa anak perawannya untuk menikah, baik suka atau tidak, dengan syarat sekufu. Hal ini didasarkan pada mafhum mukhalafah yang dikuatkan ‘illat al-bikr.Sedangkan Ibn Qayyim al-Jauziyah berpendapat harus ada persetujuan gadis bila ingin menikahkannya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah berpegang kepada mantuq nash yang dikuatkan dengan‘illat kedewasaan.

Adapun kesimpulan dari penelitian ini perbedaan pendapat antara Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah terletak pada penggunaan `illat dalam menentukan persetujuan anak perawan yang akan dinikahkan.

 



Kolom Mahasiswa Lainnya :