Jadwal Penerimaan Mahasiswa Baru TA. 2017/2018 Magister (S2) [LINKDoktor (S3) [LINK]

situs ridho1991
Merajut Dunia Melayu (Menengok Masa Lalu Menatap Masa Depan)
Narasumber : Dr. Husni Thamrin, M.Si
Tanggal Posting : 2 Juli 2017
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, S.Pd

Merajut Dunia Melayu (Menengok Masa Lalu Menatap Masa Depan)

RIAUPOS.CO - Dalam sejarah panjang pasang surut, dinamika dan problematikan peradaban Melayu mengalami fluktuasi, adaptasi dan bersentuhan dengan berbagai peradaban dunia. Dalam sejarah panjang peradaban Melayu tersebut, apakah peran yang dimainkan oleh peradaban Melayu? Kegemilangan Melayu tidak dapat diragukan lagi, ini dapat terlihat dalam zaman kegemilangan Melayu pada masa Kerajaan Sriwijaya, Melaka, Siak, Indragiri, Rokan, Jambi, Kandis  dan lain-lain. Dalam pandangan ahli istilah Melayu muncul pertama kali sekitar 100-150 Masehi. Ptolemaeus (90 AD-168 AD), ahli Geografi Mesir-Yunani dalam bukunya yang berjudul Geographike Sintaxis, menggunakan istilah“maleu-kolon”. GE Gerini (1974)menganggap istilah itu berasal dari bahasa  Sansekerta, malayakom atau malaikurram. Istilah “Mo-lo-yeu” juga dicatat dalam manuskript Cina pada sekitar tahun 644-645 Masehi semasa zaman Dinasti Tang. Di sana tertulis bahwa mo-lo-yeu mengirimkan utusan ke Cina, membawa barang hasil bumi untuk dipersembahkan kepada kaisar. Para sejarawan berpendapat bahwa perkataan Mo-lo-yeu yang dimaksudkan itu ialah kerajaan yang terletak di Jambi, atau daerah Sriwijaya yang terletak di daerah Palembang. Kerajaan Melayu sudah ada sejak satu milenium pertama sebelum Masehi yang dibuktikan gerabah keramik di Barus di tengah Pulau Sumatera. Nenek moyang orang Melayu itu ternyata juga beragam, baik asalnya yang mungkin dari suku Dravida di India, mungkin juga Mongolia atau campuran Dravida dengan Aria yang kemudian kawin dengan ras Mongolia. Kedatangan mereka juga bergelombang ke Nusantara ini.

Peradaban Melayu di masa lampau menjadi salah satu peletak dasar peradaban universal tidak bisa dipungkiri, peradaban yang kini berkembang di Indonesia, Malaysia dan Brunei, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan, Kamboja, Srilanka, hingga ke Madagaskar dan Afrika Selatan, adalah peradaban-peradaban yang tumbuh di atas landasan elemen-elemen budaya, yang sebagian atau hampir seluruhnya berasal dari budaya Melayu. Melayu mampu berperan sebagai peletak dasar munculnya peradaban di universal karena Melayu mempunyai jati diri yang bersifat inklusif. Jati diri Melayu dibangun dan diperkaya oleh beragam peradaban  besar dunia, seperti India, Arab, Cina, dan Eropa. Melayu menyerap nilai-nilai dari peradaban besar tersebut dengan menggunakan kaca mata lokal Melayu sehingga menghasilkan sebuah peradaban  yang mempunyai jati diri yang khas Melayu. Jati diri Melayu inilah yang kemudian menjadi landasan pembentukan peradaban universial di  kawasan Asia Tenggara, ini sejalan dengan visi Riau sebagai Pusat Ekonomi dan Budaya di Asia Tenggara. 

Belajar peradaban Melayu di masa lampau menjadi salah satu peletak dasar peradaban Asia Tenggara. Tidak bisa dipungkiri, peradaban yang kini berkembang di Indonesia, Malaysia dan Brunei, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan, Kamboja, Srilanka, hingga ke Madagaskar dan Afrika Selatan, adalah peradaban-peradaban yang tumbuh di atas landasan elemen-elemen budaya, yang sebagian atau hampir seluruhnya berasal dari budaya Melayu  

Peradaban Melayu mampu berperan sebagai peletak dasar merajut sub-kebudayaan kawasan Asia Tenggara karena Melayu mempunyai jati diri yang bersifat inklusif. Jati diri Melayu dibangun dan diperkaya oleh beragam peradaban besar dunia, seperti India, Arab, Cina, dan Eropa. Peradaban Melayu menyerap nilai-nilai dari peradaban besar tersebut dengan menggunakan kaca mata lokal Melayu sehingga menghasilkan sebuah peradaban  yang khas Melayu. Jati diri Melayu inilah yang kemudian menjadi landasan untuk merajut sub-sub kebudayaan Melayu kawasan Asia Tenggara dengan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu kawasan Asia Tenggara, bahkan bahasa Melayu dapat di jadikan sebagai bahasa resmi Perserikatan Bangsa Bangsa, karena populasi bangsa Melayu diperkiran hampir 400 juta lebih. 

Merajut peradaban Melayu di kawasan Asia Tenggara   dapat dilihat sejak Parameshwara kawin dengan puteri Pasai dan memeluk Islam pada 1400 M, maka Malaka menjadi pusat bandar dunia pusat pengembangan agama Islam ke seantero Kepulauan Nusantara dan Asia Tenggara bersamaan sekaligus dengan introduksi budaya Melayu. Sehingga, definisi Melayu sejak 1400 M itu berbunyi: ”Seorang Melayu ialah beragama Islam, yang berbahasa Melayu sehari-hari dan yang beradat-budaya Melayu, serta mengaku dirinya sebagai orang Melayu”.

Maka, terbentuklah masyarakat berbudaya Melayu di Thailand Selatan, Semenanjung Tanah Melayu, Singapura, Serawak, Brunai, Pesisir Sumatera Timur (Temiang, Langkat, Deli Serdang, Asahan, Labuhan Batu), Riau, Jambi, Bangka, Pesisir Palembang dan Kalimantan Barat di pesisirnya dan sepanjang sungai kapuas. Juga terdapat kemudian pemukiman orang Melayu di alam diaspora di Kamboja, Sri Langka dan Afrika Selatan.

Selain bercirikan Islam, berbahasa Melayu (meskipun dengan berbagai dialek) dan beradat budaya Melayu (adat bersendi hukum syara’, syara’ bersendi Kitabullah), juga ditandai dengan hukum keluarga yang parental. Karena letak wilayahnya yang amat strategis di sepanjang Selat Melaka dan laut Cina Selatan, yang menjadi urat lalulintas dari Barat ke Timur jauh, maka masyarakat Melayu sudah ratusan tahun terkena arus globalisasi dan pengaruh budaya berbagai etnis dan bangsa.

Pengaruh itu nyata sekali misalnya adat istiadat, ceremony raja-raja dengan upacara musik naubat dan sistem perniagaan yang kesemuanya pengaruh Persia. Sistem ketatanegaraan dan Orang Besar pengaruh dan dinasti Mughal di India; pada musik dan tari pengaruh dari Timur Tengah dan Portugis (1511 M), pada teater tradisional seperti Makyong, Merdu, Menora dan Bangsawan pengaruh Siam dan India Selatan; dalam bahasa dan kesusastraan pengaruh Arab dan India Selatan, beberapa menu makanan dari Cina. Orang Melayu sangat toleran dan terbuka menerima pengaruh luar yang dirasa baik dan unggul, kemudian orang Melayu melakukan inovasi sendiri dan melaksanakan alih teknologi (gambus dari Arab, meriam dari Turki, setinggar dari Portugis, kapal dari Persia, mode pakaian, arsitektur, taktik dalam peperangan, sistem diplomasi dan lain-lain banyak pengaruh dari luar, namun sudah banyak dimodifikasi).

Akan tetapi yang terpenting bagi peradaban Melayu ialah bagaimana orang Melayu selama 500 tahun berhasil menapis pengaruh negatif dari luar yang bisa merusak jati diri Melayu. Kejayaan Melayu masa lampau karena ia mempunyai tekad yang tunggal atas keesaan Tuhan dengan tawakkal pada tauhid, sanggup mengharungi lautan ganas, menjalin persahabatan dengan suku bangsa yang ganas dan curiga terhadap orang asing; membawa agama Islam yang damai, membawa budaya Melayu yang toleran dan adil, membawa barang dagangan untuk dijual tidak mengekploitasi dan hegemoni  tetapi jujur, menyediakan pusat transit dagang, menjadikan bahasa Melayu yang demokratis menjadi bahasa dagang dan pergaulan komunikasi; diminta masyarakat lain untuk menjadi pemimpin (raja) mereka karena lemah lembut dan adil dan membuka masyarakat yang ramah dan terbuka.

Konsep Melayu sebagai nation dan culture digunakan di Malaysia sebagai gerakan nasionalisme Melayu pada tahun-tahun 1930-an dan1940-an telah meleburkan pemisahan antara suku-suku atau etnik ini dengan menjadikan mereka semua sebagai bangsa Melayu atau a Malay nation. Hasilnya, timbul konsepsi Melayu seperti yang termaktub dalam Perlembagaan Malaysia, yaitu mereka yang mempunyai tiga ciri-ciri utama (1) yang bertutur dan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pertama; (2) beragama Islam; dan (3) berpegang kepada adat resam yang lazimnya diamalkan oleh orang-orang Melayu. Ciri konsep Melayu yang kedua ini membolehkan mereka yang asalnya bukan dari keturunan Melayu seperti Arab, India, Cina, Eropa dan lainnya menjadi orang Melayu ataupun ”masuk Melayu” setelah memenuhi ketiga-tiga ciri-ciri di atas yakni memeluk agama Islam, bertutur dalam bahasa Melayu, mengamalkan adat resam Melayu dan kemudiannya mengaku diri mereka sebagai orang Melayu. Hal ini juga berlaku bagi konsep Melayu di Riau sebagaimana yang disebutkan oleh Hamidi  (1999:169), penduduk daerah ini (Melayu) mempunyai tiga identiti: (1) beragama Islam; (2) berbahasa Melayu; (3) mempunyai kesamaan dalam adat dan tradisi.

Merajut Nation Melayu mempunyai pengertian yang lebih luas yakni bangsa yang besar atau ras (Inggris: race) atau ”rumpun bangsa” (a racial stock). Istilah tersebut digunakan dalam bidang antropologi dan sosiolinguistik dan juga digunakan oleh UNESCO dengan merujuk kepada penduduk asli di Semenanjung dan Gugusan Pulau-Pulau Melayu yang kini lebih dikenali sebagai alam Melayu atau the Malay World. Pengertian Melayu di sini  lebih kepada konsepsi Antropologis  yang tidak menjadikan agama Islam sebagai salah satu sarat sah Melayu. Salah satu unsur persamaan mereka ialah bertutur dalam bahasa dari cabang atau rumpun bahasa induk Austronesia atau Melayu-Polinesia. Artinya saudara terdekat kepada rumpun atau ras Melayu itu ialah bangsa Polinesia yang tersebar secara meluas di Kepulauan Pasifik sehingga ke Pulau Hawaii, New Zealand dipercayai berasal dari Alam Melayu dan mempunyai akar bahasa yang sama yaitu Austronesia. 

Berkaitan dengan pengertian Melayu dalam pandangan kolonial yang juga ahli Antropologi  Stamford Rafless yang menyebutkan bahwa Melayu adalah suatu bangsa yang besar  yang tersebar  dari laut Sulu hingga Samudera Selatan. Pendapatnya dikutip oleh Wan Hasyim (2012:6)  bahwa Alam Melayu dianggap sebagai kawasan bermulanya kehidupan manusia bertamadun yang diperkirakan sekitar 15.000 tahun SM. Hal ini lebih awal dari terbinanya tamadun di Timur Tengah sedangkan tamadun awal di benua Cina dikatakan tumbuh  dari pengaruh pertumbuhan tamadun awal di alam Melayu. Maksud tamadun awal itu ialah kegiatan bercocok tanam dan menternak hewan. Sebelum itu, kehidupan manusia adalah secara ”primitif” yaitu memburu binatang dan meramu hasil tumbuh-tumbuhan liar. 

Selanjutnya dilihat pandangan dari aspek antropologi yang membagi penduduk dunia berdasarkan ras kepada empat kelompok yakni: (1) Caucasoid, (ras kulit putih seperti Eropa dan Russia, Timur Tengah dan India); (2) Negroid, ras kulit hitam seperti Afrika; (3) Mongoloid, ras kulit kuning seperti Benua Asia dan Asia Tenggara; (4) Autraloid, ras kulit hitam di Benua Asia dan Australia. Dalam hal ini orang Melayu dimasukkan ke dalam kategori Mongoloid yakni berkulit kuning. Namun ada pula yang memasukkannya kepada Melayu-Polinesia dengan warna kulit sawo-matang dan mereka ini mempunyai kesamaan dalam bahasa dan budaya. Oleh kerana itu, mereka disebut sebagai bangsa Melayu-Polinesia. Menurut Hamidi (1999:20) istilah tersebut juga dipakai oleh Humboldt, yang kemudian oleh Schmidt diganti istilah itu dengan bangsa Austronesia yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan istilah sebelumnya.

Beratus atau beribu tahun sebelum Masehi, bangsa Melayu telah mulai membuat perahu-perahu layar atau perahu bersayap (outrigger boat) yang mampu merentas selat dan lautan khususnya Lautan Pasifik sehingga mereka menjadi penduduk tetap di beberapa kepulauan sampai ke pulau-pulau New Zealand, Hawaii, Marianas, Tahiti, dan banyak lagi pulau lainnya serta membentuk identitas sendiri sehingga menjadi rumpun Polinesia sebelum penduduk benua Eropa dan Asia mengenal lautan. Pada tahun-tahun Masehi, masyarakat rumpun Melayu juga telah merentas Lautan Atlantik untuk menduduki pantai timur benua Afrika khususnya menjadi peneroka dan pribumi di Pulau Madagaskar sebelum penduduk benua Afrika sendiri belayar untuk menduduki pulau itu.

 Untuk selama 2000 tahun sehingga kurun ke-15, rumpun Melayu adalah satu-satunya manusia yang menguasai lautan di dunia sebelah timur ini, bukan sekadar sebagai pelayar dan pelaut tetapi juga menguasai ilmu dan jaringan perdagangan jarak jauh. Seperti disebutkan oleh Syed Naquib Alatas (1972) bahwa sebelum tibanya penjajah dari Eropa di Nusantara pada abad ke-16, sudah ada satu kelas perdagangan bangsa Melayu yang mantap di alam Melayu ini. Catatan oleh ahli sejarah Portugis pada awal abad ke-16 Gasper Correla mengenai kapal layar atau jong Melayu menjadi bukti yang jelas bahwa kapal-kapal layar yang dibina oleh orang-orang Melayu mampu menandingi kapal-kapal yang dibina oleh para penjajah yang tiba ke mari mulai awal abad ke-16. 

Dalam waktu 1500 tahun juga bermula pada awal abad Masehi sehingga memasuki abad ke-16, rumpun Melayu dari pelbagai suku bangsa telah membina puluhan kerajaan yang bermula dari Kerajaan Funan dengan disusuli oleh Kerajaan Champa yang menguasai seluruh Semenanjung Indo-Cina yang menguasai seluruh sempadan bagian utara Alam Melayu. Selanjutnya juga disusuli oleh pembukaan negara-negara kota serta berbagai kerajaan yang meliputi seluruh kepulauan di Alam Melayu, termasuk kerajaan pertama di Pulau Madagaskar. Puncak perkembangan tamadun Melayu ini terjadi pada masa Empirium Sriwijaya di antara abad ke-7 sehingga abad ke-13, Emperium  Melaka pada abad ke-15 dan Emperium  Islam Patani di antara abad ke-16 sehingga awal abad ke-20. 

Bagi negeri-negeri Melayu di Semenanjung dan seluruh wilayah kepulauan termasuk Filipina, Indonesia dan Brunei, untuk selama lebih 400 tahun berada di bawah ekploitasi kolonialisme  Portugis, Belanda, Sepanyol, Jepang dan Inggris secara silih berganti. Dalam menghadapi penjajah tersebut bangsa Melayu tidak pernah bersatu untuk membuat usaha dan upaya guna memerangi kekuasaan penjajah ini. Walaupun sebahagian besar bangsa Melayu sudah menganuti agama Islam, tetapi mereka tidak mempunyai daya tahan, daya saing, dan daya juang yang sama jika di bandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang juga telah menganut agama Islam seperti di India yang berjaya menumbuhkan Empayar Moghul, dan terutama sekali di wilayah Asia Barat meliputi sebahagian benua Eropah yang senantiasa berkembang dengan meluaskan wilayahnya sehingga menjadi kuasa dunia. 

Jika direnungi jauh ke seberang samudera luas merentas pulau-pulau di Lautan Pasifik di mana terdapatnya rumpun bangsa Polinesia yang merupakan serpihan daripada bangsa induknya di Alam Melayu, mereka juga secara relatifnya jauh ketinggalan dalam bidang-bidang yang sama, yaitu ekonomi dan pendidikan. 

Melayu memiliki makna yang majemuk, dari etno-linguistik dikatakan sebagai penutur bahasa Autronesia atau Proto-Melayu. Penutur bahasa tersebut termasuk orang Maori di New Zealand dan penduduk di Kepulauan Pasifik di Timur dan penduduk Campa di Vietnam dan orang Asli di Taiwan dan Hainan di utara. Daniel Peret (1998 ) mengatakan bahwa Kepulauan Melayu merupakan bagian dari kawasan dunia yang mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi pengembara dan pedagang. Mereka melakukan pelayaran yang jauh dengan bantuan angin pada musimnya. Mereka juga menjumpai berbagai rempah yang banyak tumbuh di Alam Melayu.

Masyarakat Riau adalah mayoritas masyarakat Melayu yang memiliki nilai budaya Melayu. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas terungkaplah bahwa pada zaman lampau orang Melayu adalah bangsa “penakluk” dan berhasil “memerintah” suku-suku lainnya di Nusantara. Orang Melayu dulunya adalah pedagang perantara yang lihai sekaligus membawa Islam dan budaya Melayu ke segenap pelosok Nusantara dan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, konsep asal yang dikatakan orang Melayu adalah memiliki ciri-ciri (1) beragama Islam; (2) berbahasa Melayu; (3) dan beradat istiadat Melayu. Namun sejak kedatangan Imperialisme Barat di Alam Melayu, orang Melayu terkontaminasi oleh konsep penjajah tersebut di mana konsep adu domba yang merasuk kepada masyarakat Melayu sehingga penjajah berhasil mengubah konsep asal masyarakat Melayu sehingga membuat kehidupan orang Melayu mulai berubah. 

Ucapan-ucapan para penjajah yang sangat menyakitkan hati di antaranya bahwa orang Melayu itu pemalas, etos kerja rendah, cepat merasa puas, suka hidup santai, berprasangka dengki dan iri atas kelebihan kawan, dan sebagainya. Apakah memang demikian adanya orang Melayu itu. Apabila memang seperti itu bagaimana mungkin orang Melayu dapat memimpin dunia ini selama berabad-abad sebut saja Sriwijaya dan kerajaan lainnya. 

Menurut pandangan orang luar Melayu yakni orang Belanda yang bernama Vallentijn menyebutkan bahwa orang Melayu sangat cerdik, pintar, dan manusia yang paling sopan di seluruh Asia. Dalam hal etika orang Melayu sangat baik, sopan santun, lebih pembersih dalam cara hidupnya, dan lebih rupawan sehingga tidak ada manusia yang bisa dibandingkan dengan mereka. Orang Melayu mempunyai kebiasaan mempelajari bahasa, dan memperluas pengetahuannya dengan mempelajari bahasa Arab, Parsia, India, Cina dan Eropa

Pada masa lalu Bangsa Melayu secara historis dan sosiologis telah dapat merajut sub-etnik di kawasan Asia Tenggara Melayu Kerajaan Sriwijaya maupun di era Kerajaan Melaka, Siak Sri Indrapura, Indragiri, Jambi Kapuas, Campa, Kerajaan Petani dan lain-lain. Riau telah memproklamirkan Visi 2020 nya sebagai  Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, apa yang telah disiapkan orang Riau. Sampai sejauhmana visi,misi dan Renstra visi tersebut, atau hanya menjadi impian belaka. Saat ini telah disahkan peraturan daerah tentang Pelestarian Budaya Melayu, pertanyaan sudah sampai sejauh manakah implementasi Peraturan daerah tersebut. Dalam tataran global ini apakah kebudayaan Melayu adaptif dapat menghadapi krisis kebudayaan yang bersifat global. Kita mengharapkan peradaban Melayu dapat merajut sub-sub kebudayaan lokal menjadi sebuah konsep nation dan civilization di kawasan Asia Tenggara, supaya bangsa Melayu tidak termarjinal dalam persaingan idiologi dan kebudayaan kebudayaan besar lainnya.*** 


Read more



Kolom Guru Lainnya :