Jadwal MABA Gel. I TA. 2018/2019 pada 1 Juli 2018 s.d 25 Juli 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
MAKNA PUASA BAGI PEMIMPIN INDONESIA
Narasumber : Dr. Husni Thamrin, M.Si
Tanggal Posting : 26 Agustus 2015
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, S.Pd

MAKNA PUASA BAGI PEMIMPIN  INDONESIA


Husni Thamrin

 

Dalam sejarah panjang perpolitikan di Indonesia mulai dati  sistem politik  monarki yang diwarnai nilai nilai religius budhis, hindu , islam  hingga sistem politik  demolkrasi libral. Demokrasi terpimpin , demokrasi Pancasila , hingga  oligarki yang  di bungkus oleh demokrasi atau negeri setelah demokrasi. Kesemuanya itu Demokrasi dapat berjalan dengan baik apabila masyarakatnya kuat secara pendidikan dan kuat secara ekonomi.  Kalau tidak demokrasi hanya milik orang yang berkuasa dan berduit. Selanjutnya dalam  aspek kepemimpinan  demokrasi dapat berjalan dengan baik  apabila ada  keadilan , kekuatan masyarakat   dan kepastian dalam hukum.

Faktor sumberdaya manusia, pendidikan dan hukum adalah faktor yang sangat penting untuk mewujudkan tatanan pemerintahan yang baik, tetapi ada faktor yang lebih mendasar dari faktor tersebut adalah moralitas dan mentalitas penyelenggaran bangsa.

Fenomena yang kita lihat saat dalam pertarungan politik menunjukkan pertarungan yang tidak sehat saling hujat, saling fitnah, karuptif, money politik bahkan sampai sampai kepada isu sara yang rawan menimbulkan konflik sosial dan memecah belah rasa kesatuan dan persatuan bangsa.  Fenomena ini dapat kita lihat mulai dari suasana pemelihan legislatif, pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden. Saaat ini syahwat kekuasaan ini terlalu  kuat untuk mencapai tujuan , bahkan menghalalkan segala cara. Setelah mereka berkuasa  prilaku kerena di hasilkan oleh  produk yang koruptif juga mengahasikan prilaku yang koruptif. Melihat fenomena ini apa yang salah ?   Yang salah dari semua ini adalah faktor moralitas dan mentalitas yang tidak mencermin nilai- nilai  akhlakul karimah. Dalam penyelengaraan yang baik  faktor akhlakul karimah dan nilai- nilai keislaman yang terkandung dalam nilai nilai ibah pusasa adalah sangat penting. kerena dalam puasa bukan sekedar menahan haus dan lapar.  Teapi kita harus puasa dari sifat koruptif, puasa dari hujat menghujat, puasa dari  saling mefitnah,  puasa dari. Saling iri , dengki  kianat, berburuk sangka dan lain lain.

Dalam era perpolitikan  demokrasi  saan ini  , fenomenanya terlihat  faktor moralitas dan mentalitas  yang berakhlakuk karimarimah hampir hanpir diabaikan sama sekali. Sehingga terjadi perpolitikan kanibalisasi , bahkan kadang hampir hampir menjurus ke gejala anarkis.  Kalau ini dibiarkan berkelanjutan disinilah awal dari kejatuhan bangsa ini. Atau kita kembali kepada politik jaman jahiliyah. Kererana penting faktor moral dan mentalitas yang akhlakul karimah ini , Allah SWT mengutus  Baginga Rasullullah untuk memperbaiki Akhlak umat manusia, Bagaimana dalam pembinaan Akhlakuk karimah ini , Islam  tidak memisahkan antara urusan negara dengan  ritual ibadahtermasuk ibadah puasa merupakan cerminan pembinaan mentalitas dan moralitas. Hal ini dapatkita lihat  dalam perjalanan sejarah umat Islam  dalam penyelenggaraan negara.

Dalam literatur dan pengalaman umat Islam, khususnya pada zaman Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, terlihat bahwa umat Islam tidak memisahkan ibadah dengan kegiatan mengelola  tata pemerintahan.   Al Quran tidak memisahkan antara kehidupan politik dan ibadah. Politik adalah bagian dari kehidupan masyarakat seperti halnya kegiatan ekonomi ,agama, budaya., tekhnologi dan seni  Oleh sebab itu Islam tidak membeda-bedakan antara praktek politik dari nilai-nilai Islam, yang terkandung dalam ibadah puasa yang sarat dengan nilai-nilai. Meterial  dan spiritual .  Sayyid Abl A’la Mawdudi (1982) secara gamblang mengatakan, puasa itu tak lain adalah ibadah yang memberikan kesadaran bahwa hidup itu adalah pengabdian total.  Baik secara individu maupun  kolektif. Puasa juga merupakan pelatihan bersama yang mengikat seorang Muslim kedalam masyarakat dan penyelengaraan negara.  Dengan demikian, puasa itu menjadi sebuah kekuatan moral karena dilakukan secara kolektif, melibatkan ribuan, jutaan bahkan sampai satu milyar  umat manusia di dunia. Ini arti puasa bukan masaalah ibadah individual tapi juga mempunyai  tanggung jawab kolektif secara totalital bagi pemimpin atau penyelenggara negara. Pemimpin yang tidak mau melakukan ibadah puasa dalam pengertian luas akan menimpaka kosekuensi baik di dunia maupun di akhirat.  Yang d maksud dengan pemimpin disini. Adalah penyelengaraan kenegaraan baik dalam bidang legislatif, eksekutif , yudikatif dan pemimpin lainnya.

Dinamikapolitik Indonesia beberapa dekade ini  dalam keadaan yang tidak kondusif , sehingga banyak pemaknaan politik itu mencapai titik  nadir terendah bahkan terkesan bahwa apapun yang berbau politik,  termasuk masalah penghargaan rasionalitas dan profesional dalam bidang keilmuan pun menjadi tidak berharga.

Politik dan Ibadah  adalah dua sisi mata uang  seperti yang dilakukan Rasulullah dalam memimpin umat Islam di Madinah atau Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.  Saat Ini dalam kebanyakan pemahaman masyarakat, politik itu kotor, jahat, penuh tipuan dan kehidupan yang jauh dari praktek kemuliaan Islam. Distorsi inilah yang kemudian melahirkan sikap dan perilaku politik yang berbeda dengan ideal-ideal yang pernah dipraktekkan Rasulullah. Pada akhirnya sistem politik pun mengalami kemerosotan nilai-nilai bahkan termasuk dikalangan praktisi politisi Islam. Berpolitik bisa berarti mengundang permusuhan dan bisa juga menjatuhkan . Pola politik umat Islam dapat dibagi dalam tiga pola; Pertama, Islam ibadah yang menekankan pentingnya ibadah khusus terlepas dari kehidupan politikk. Misalnya perlunya membangun banyak mesjid,sholat, ceramah, halaqoh  dan pengajian. Kedua, Islam politik yang menyorot perlunya umat menguasai berbagai cabang kekuasaan sehingga muncul ide-ide seperti negara Islam atau negara Islami. Ketiga, Islam akidah yang bercirikan dengan pandangan bahwa yang perlu itu bagaimana mewarnai kehidupan politik dengan nilai-nilai Islam tanpa mempersoalkan bentuk ideologi. Sebagian besar umat  Islam terhadap alergi politik sebagai akibat perdebatan dan benturan fisik dalam menciptakan apa yang disebut negara Islam maka Islam politik masih tabu saat ini, yang diperlukan adalah bagaimana menciptakan masyarakat Indonesia yang rasional dan demokratis sehingga bisa melahirkan kehidupan politik yang   bermoral , bermartabat , zero koruptif,  dan modern

Oleh karena itu berbagai jalan ditempuh agar, nilai-nilai puasa dalam Islam iini dapat diimplementasikan  dalam  kehidupan politik yang sedang  mengalami  distorsi dan dagradasi dagradasi , ketena dalam  puasa tertanam sifat sifat yang menahan diri dari prilaku yang  terlarang (dosa) yangtak dapat di pertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat.  Mengutip pendapat M Natsir ,   sebuah praktek politik adiluhung atau politik yang sangat luhur. Rekaman pemikiran Natsir ini pernah diulas Lance Castles dan Herbert Feith dalam Indonesian Political Thinking:  Natsir memperjuangkan cita-cita antara lain membebaskan manusia dari segala bentuk superstisi, memerdekakannya dari segala takut kecuali kepada Allah Sang Maha Pencipta serta memegang perintah-perintahNya agar kebebasan ruhani manusia dapat dimenangkan. Natsir juga mengancurkan segala tirani harus dilenyapkan, chauvinisme yang merupakan agar intoleransi dan permusuhan diantara manusia wajib diperangi dan Natsir yakin bahwa Islam mengajarkan cita-cita politik yang sangat luhur atau politik bermoral). Makna  politik adiluhung ini sebagai politik yang berdimensi moral serta etis. Sedangkan low politics adalah politik yang terlalu praktis dan seringkali cenderung nista , pragmatis dan sesaat, oknumnya adalah pekerja politik. Sedang politik adhiluhung adalah benar benar politisi sejati yang sangat mementing nilai nilai moral dan nilai nilai religius.

Bagi penyelengara negara atau pemimpin mestikan menjadi politikus-adiluhung  yang  menunjukkan sikap tegas terhadap korupsi, mengajak masyarakat luat memerangi ketidakadilan, mengimbau pemerintah untuk terus menggelindingkan proses demokrasi dan keterbukaan, maka organisasi tersebut pada hakikatnya sedang memainkan high politics.

Sebaliknya bila seorang politikus melakukan gerakan manuver politik untuk memperebutkan kekuasaan , , membuat kelompok penekan, membangun lobi, serta berkasak-kusuk untuk mempertahankan atau memperluas kekuasaan organisasi tersebut sedang melakukan lpolitik rendahan, sesaat dan pragmatis  Upaya untuk menanamkan nilai-nilai moral  dan islam yang terdapat. Dalam  ibadah puasa dalam kehidupan politik diharapkan dapat  menyehatkan ikllim perpolitikan di nisantara , yang saat ini sangat tidak kondusif, koruptif,  dan demokrasi yang oligarki.

Dalam kaitan  makna puasa bagi pemimin Indonesia terlihat bahwa proses pelatihan selama bulan Ramadhan yang diharapkan melahirkan manusia bertaqwa , ihsan, iman, itu juga mampu memunculkan politik yang bermoral . Hasil  akhir politik ini sebagai ibadah yang mulia ini memerlukan internalisasi sehingga sebagai sebuah nilai dalam kehidupan, maka aktivitas politik bermoral ini juga bernilai ibadah tinggi seperti halnya ibadah lainnya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam puasa, sebagai bagian dari ibadah dalam kerangks nilai nilai Islam yang menyeluruh sangat terkait dengan kehidupan pribadi dan sosial masyarakat muslim . Semua Ibadah dilakukan selama bulan Ramadhan diarahkan agar umat Islam mensucikan diri sehingga mencapai derajat taqwa.,iman dan ihsan.

Dalam realitasnya  manusia bertaqwa ini diharapkan juga mampu mewarnai dan menjadi figur-figur pemimpinan Indonesia  dominan dalam melahirkan kehidupan politik yang bermoral, bermartabat, berwibawa  mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi bangsa dan tumbah darah indonesia, ikut mrnjaga  ketertiban dunia yang bebas dan aktif, selanjutnya dapat merangkul  semua komponen yang ada  sesuai dengan keahliannya. Kehidupan politik yang menggelorakan semangat politik yang moral IDalam suasaa puasa Ramadhaninilah yang diharapkan mampu melahirkan pemimpin bangsa Indonesia yang , berimandan bertaqwa menuju Indonesia  yang adil , aman, makmur ,bermartabat dan berakhlakul karimah , menuju derajat taqwa.

Data Penulis: Click Click



Kolom Guru Lainnya :