Jadwal Penerimaan Mahasiswa Baru Gel. II TA. 2017/2018 pada 13 Nopember 2017 s.d 19 Januari 2018 [LINKRegistrasi Online [LINK]

situs ridho1991
PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN DAN BUDAYA LOKALDALAM MENANGGULANGI GERAKAN RADIKALISME
Narasumber : Prof. Dr. H. M. Nazir, MA
Tanggal Posting : 16 Februari 2015
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, S.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN DAN BUDAYA LOKAL DALAM MENANGGULANGI GERAKAN RADIKALISME

M. Nazir

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau

 

Abstract

The Role of Education Institution and Local Culture in Resolving Radical Movements: Due to various terrorist incidents committed by the radical-international terrorism, there are many human and property casualties brought concerns from many quarters. In general, actors of radicalism never get the formal and non-formal education in religious institutions. Some underestimate religious educational institutions. The above conditions led some to worry, while religious institutions are not able to transform religious and cultural values of local wisdom to students well, the actions taken by the radicals will continue. Though there is no one else in this world religion that encourages its followers to conduct chaos and destruction. Islam does not encourage its followers to make destruction on the earth. Islam should be the blessing for the universe. So also with the ethnic culture of the nations living in the eastern parts of the world, including Indonesia, are all high support human values. Radicalism movement is caused by socio-political conditions deliberately created by those who hate each other, which in turn makes some people feel injustice. To make radical-terrorist movements in the future no longer exist or at least will be minimized, the religious educational institutions must be able to transform religious and local culture values which are universal to the learners to be carried out in the life of society, nation and religion.

Keywords: Religious Educational Institutions, Radicalism and Local Culture.

Pendahuluan

Beberapa tahun belakangan ini, isu terorisme yang dilakukan oleh kelompok radikal mengguncang dunia, terutama setelah terjadinya serangan terhadap gedung World Trade Center (WTC) di New York, lambang perekonomian Amerika Serikat dan kantor atase pertahanan Amerika Serikat di Pentagon, Washington DC pada tanggal 11 September 2001. Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok radikalis-teroris internasional. Begitu juga dengan peledakan bom di Sari Club, Legian-Kuta-Bali pada tanggal 12 Oktober 2002,[1]2 peledakan born di hotel J.W. Merriot, Atrium Senen, Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dan masih banyak kasus lain seperti peledakan bom di Gareja-Gareja menjelang perayaán Natal dan tahun baru dan tidak terkecuali juga di Mesjid seperti yang terjadi di Kota Cirebon beberapa waktu lalu ketika pelaksanaan Sholat jum`at sedang berlangsung.

Akibat berbagai macam peristiwa di atas, banyak korban manusia dan harta benda yang telah berjatuhan[2] dan mendatangkan keprihatinan dari banyak pihak. Peristiwa tersebut (diduga) dilakukan oleh kelompok radikal yang pada umumnya hidup beragama dan pernah mendapatkan pendidikan formal maupun non formal di institusi pendidikan agama serta berasal dari bangsa timur yang memiliki budaya lokal yang sangat arif dan bijaksana terhadap sesama manusia. Akibatnya, sebagian pihak memandang miris institusi pendidikan agama, sebagai tempat mencetak kaum radikalis-teroris dan menganggap budaya Timur sudah tak searif dahulu lagi.

Kondisi di atas membuat sebagian kalangan menjadi khawatir, selagi institusi pendidikan, termasuk pendidikan agama tidak mampu mentransformasi niiai-nilai agama dan budaya lokal (timur) yang arif kepada peserta didik dengan baik, maka aksi-aksi yang dilakukan oleh kaum radikal akan tetap berlanjut, dan akan senantiasa mengancam keamanan dan perdamaian dunia, termasuk di Indonesia pada masa yang akan datang, serta mengancam hak-hak asasi manusia (HAM) yang seharusnya dilindungi oleh semua pihak. Pada hal sama-sama kita ketahui, tidak ada satu-pun agama di dunia ini yang menganjurkan umatnya untuk bebuat kekacauán dan kebinasaan, misalnya agama Islam. Islam menganjurkan umatnya agar tidak berbuat binasa di muka bumi (wala tufsidhu flu ardhi), sebaiiknya Islam harus menjadi rahmatan lii `alamin (Q.S. 21:107), rahmat bagi sekalian alam. Begitu juga dengan budaya suku bangsa-bangsa yang hidup dibelahan Timur dunia, termasuk berbagai macam suku bangsa di Indonesia, semuanya menjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh karena itu, tulisan singkat ini mencoba mengulas bagaimana peran pendidikan agama dan budaya lokal dalam menanggulangi aksi-aksi yang dilakukan oleh kaum radikal, mengingat sebagian (besar) pelaku gerakan radikalis-teroris di tanah air selama ini dilakukan oleh orang-orang yang berasal dan suku bangsa Timur, hidup beragama dan pernah mengenyam pendidikan formal maupun non-formal di institusi pendidikan agama. Namun sebelum penulis membahas persoalan tersebut, terlebih dlu penulis mengungkapkan men gapa gerakan radikalis-teroris timbul di dalam masayarakat, termasuk masyarakat muslim.

Penyebab Timbulnya Gerakan Radikalisme Pada Masyarakat (Muslim)

Kalau kita melihat sejarah dunia, khususnya dunia Islam, ternyata gerakan radikalis-teroris bukanlah fenomena dunia di penghujung abad XX dan awal abad XXI. Akan tetapi, dalam masyarakat Islam, gerakan radikalis-teroris sudah dikenal semenjak 14 abad yang lalu yaitu semenjak masa Khalifah (III) Usman Bin Affan. Pada masa itu, Abdullah bin Saba`[3]4 dan pengikutnya berjumlah kurang lebih sebanyak 2000 (dua ribu) orang menghendaki kepemimpinan Khalifah Usman bin Affan diganti degan Ali bin Abi Thalib karena menurut mereka All bin Abi Thalib lebih berhak dan lebih pantas menduduki jabatan khalifah dari pada Khalifah Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan dengan alasan Ali bin Thalib mempunyai hubungan keluarga yang Iebih dekat dengan Nabi Muhammad s.a.w. Atas dasar itu, lewat berbagai macam propaganda dan usaha pembunuhan, akhirnya kelompok Abdullah bin Saba` berhasil membunuh Khalifah Usman bin Affan dan membuat negara dalam keadaan kacau balau sehingga dalam suatu musyawarah, para Sahabat Nabi mendesak Ali bin Abi Thalib untuk memangku jabatan khalifah demi menghindari kekacauan negara yang lebih serius lagi.

Namun ketika jabatan ke-khalifahan di pegang oleh Ali bin Abi Thalib, gerakan ekstrim yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba` kian menjadi-jadi, mereka menganggap Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya adalah titisan Tuhan. Mereka meyakini Ali bin Abi Thalib dan keturunannya dari Fatimah A-Zahra` mempunyai sifat ketuhanan sehingga harus mewarisi jabatan khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.

Kemudian pada waktu yang bersamaan, di negeri Kufah dan Irak timbul pula gerakan Khawarij yang dipimpin oleh Abdullah bin Wahhab Al-Rasibi. Gerakan ini dinamakan Khawarij (ke luar) karena mereka mempunyai prinsip bahwa orang Islam yang berbuat dosa dianggap murtad dan keluar dari agama Islam. Kemudian prinsip ini berkembang menjadi lebih ekstrim lagi yaitu menganggap kafir orang-orang yang tidak ikut dalam kelompok mereka. Dengan pemahaman yang seperti itu, mereka dengan serta merta mengkafirkan pemerintah Islam yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib saat itu, serta umat Islam lainnya pengikut Ali bin Abi Thalib.

Oleh karena mereka menganggap Khalifah Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya kafir maka mereka mengadakan teror terhadap masyarakat muslim, merusak fasilitas-fasilitas publik di negeri-negeri Islam, serta rnenggalang pemberontakan terhadap pemerintah, dan akhirnya kelompok ini berhasil Pula membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib di kemudian hari. Dengan demikian terlihat bahwa penyebab timbulnya gerakan radikalis-teroris pada masa sahabat Nabi karena sebagian dari umat Islam masa itu salah dalam memahami ajaran Islam sehingga perbuatan mereka mengarah kepada tindakan radikalis-teroris, menghalalkan darah sesama muslim yang dianggap murtad, apalagi darah non-muslim.

Oleh karena itu timbul pertanyaan, apakah gerakan radikalis-teroris masa lalu berhubungan dengan gerakan radikalis-teroris masa sekarang? Jawabanya tidak. Mengutip pendapat Walter Lacquer, gerakan radikalis-teroris berakar dari adanya ketimpangan sosial ekonomi yang luas dalam masyarakat,[4] dan secara spesifik Max Bellof dan Fran Magnis Suseno S.J., menyebutkan, munculnya gerakan radikalisteroris selalu berkaitan dengan situasi historis tertentu yaitu apabila di daiam masayarakat ada ketidak-adilan, atau ada bagian atau kelompok masyarakat yang merasa tidak mendapatkan perlakuan adil, baik di bidang politik, sosial, ekonomi maupun budaya.[5] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa munculnya gerakan radikalis-teroris pada penghujung abad XX dan awal abad XXI ini, termasuk di Indonesia disebabkan oleh kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya dunia di penghujung abad XX dan awal abad XXI liii pula, terutama oleh kondisi sosial politik yang diciptakan oleh negara-negara Barat terhadap negara-negara lainnya, termasuk terhadap negara-negara Islam, khususnya di kawasan Timur Tengah.[6]

Gerakan radikalis-teroris di penghujung abad XX dan berlanjut hingga saat ini, pertama kali muncul pada tahun 1980-an dan selama dua dasa-warsa tidak mendapat perhatian serius dari negara-negara dunia, karena pada masa itu Blok Barat (Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya) dan Blok Timur (Uni Soviet) terlibat perang dingin sebagai akibat dari kemenangan mereka dalam Perang Dunia II. Hancurnya imperium,komunis Uni Soviet pada awal tahun 1990-an membuat Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya merasa menang dan mengklaim dininya sebagai polisi dunia. Mereka melihat tidak ada lagi musuh yang berat dan serius kecuali negara-negara Islam sebagaimana diungkapkan oleh Hantington.

Islam kemudian dimusuhi oleh negara-negara Barat karena mereka melihat kebangkitan Islam (islamic revivalism) di akhir abad XX dan berlanjut hingga kini. Mereka khawatir, Islam kembali akan rnenguasai peradaban dunia seperti yang pernah terjadi pada masa silam. Sebagaimana kita ketahui, Islam pernali menguasai dunia kurang lebih selama tujuh abad (I/VII-VII/XIII), dan mi adalah waktu yang sangat lama. Tidak ada satu-pun negara di dunia mi yang bisa menancapkan hegemoninya selama itu kecuali negara Islam. Sebagai perbandinganm, Amerika Serikat baru bisa menancapkan hegemoninya di dunia mi, kurang lebih selama lima puluh tahun terakhir, dan itu-pun berada di bawah bayang-bayang negara komunis.

Menyadari keadaan demikian, negara-negara Barat berupaya melemahkan kedudukan negara-negara Islam yang sudah terpecah-pecah dengan cam membuat konflik di kawasan Timur Tengah. Konflik di kawasan Timur Tengah sengaja diciptakan oleh dunia Barat, selain untuk menekan Iajunya kebangkitan dunia Islam, juga sebagai usaha memastikan dirinya mendapatkan suplai minyak dari negaranegara Islam di kawasan ini. itu dilakukan oieh negara-negara Barat dengan cara memberikn dukungan kepada kebijakan yang pemah dibuat oleh pemerintah Inggris pada tahun 1917 melalui Balfour Declaration, yaitu memberikan suatu "Tanah Air bagi orang Yahudi" di tanah Palestina.[7] Tujuan dibenikannya tanah air Palestina kepada orang Yahudi oleh Inggris pada waktu itu adaiah untuk menjarnin keamanan Terusan Suez bagi arus pasokan minyak dan perdangan Inggris dari Persia dan Timur Jauh. Di samping itu juga untuk menjadikan Palestina-Yahudi sebagai bastian (benteng) Inggris dalam rangka mengontrol kawasan Afrika Utara, Laut Tengah dan Timur Tengah. Namun kebijakan iersebut di mata umat Islam merupakan awal dari konspirasi yang berkelanjutan antara Barat dan Zionisme (Yahudi) yang menjadi bencana bagi dunia Islam.

Kebijakan Inggris pada tahun 1917 tersebut, sekarang didukung dan diambil alih oleh negara-negara Barat dalam rangka untuk mengontrol lajunya pertumbuhan Islam di kawasan Timur Tengah, dan dalam rangka memastikan dirinya selalu mendapatkan suplai minyak secara berkelanjutan dari kawasan tersebut,[8] namun berimplikasi kepada perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Semua orang mengtahui bahwa rakyat Palestina sudah puluhan tahun berada di bawah jajahan Israil (baca: Yahudi) yang mendapat dukungan kuat dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Semenjak Palestina berada di bawah jajahan Israil (Yahudi), rakyat Palestina mengalami penderitaan hebat, harkat dan martabat bangsa Palestina diinjak-injak, hak-hak asasi manusia di kawasan mi selalu terancam, bahkan dalam melaksanakan ibadah (syari`at Islam), rakyat Palestina selalu diawasi oleh tentara Israil. Perlakuan tentara Israil (Yahudi) terhadap rakyat Palestina tersebut didukung oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya yang mengklaim dirinya sebagai polisi dunia dalam rangka memenangkan misi politiknya sebagaimana disebutkan di atas.

Akibat dari penindasan secara terus menerus yang dilalukan oleh tentara Israil di bawah dukungan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya terhadap rakyat Palestina, membuat sebagian rakyat Palestina putus-asa memperjuangkan kemerdekaannya. Di dalam rasa keputus-asaan tersebut, rakyat Palestina dan umat Islam serta umat agama lain yang membantu perjuangan kemerdekaan Palestina, berjuang dengan berbagai macam cara, di antaranya melakukan serangan melalui bom bunuh diri yang ditujukan kepada tentara Israil dan tentara Amerika Serikat. Pembajakan pesawat komersial Amerika Serikat yang ditabrakkan ke gedung WTC dan Pentagon diduga pula dilakukan oleh kelompok Usama bin Laden yang anti terhadap kebijakan Amerika Serikat mengenai masaIah Timur Tengah dan dunia Islam lainnya. Namun karena 19 orang tersangka yang ditangkap semuanya warga negara Arab, ada pula kalangan yang menduga bahwa serangan 11 September 2001 dilakukan oleh pejuang kemerdekaan Pelestina. Begitu juga halnya dengan para tersangka peristiwa peledakan bom di Sari Club, Legian, Kuta, Bali pada tanggal 12 Oktoer 2002. Menurut pengakuan mereka (Amrozi dan Imam Samudra) kepada pihak penyidik Polri, hat tersebut mereka lakukan karena mereka merasa sakit hati kepada tindakan pemerintah Amerika Serikat rmenyerang umat Islam Afganistan dan membiarkan militer Israil menjajah umat Islam Palestina.[9]

Dengan demikian terlihat bahwa gerakan "radikalis-teroris" muncul belakangan ini dan dilakukan sebagian kalangan umat Islam, termasuk di Indonesia disebabkan oleh situasi politik yang diciptakan oleh negara-negara Barat yang memusuhi dan menindas negara-negara Islam. Dan dalam situasi keterputus-asaan, sebagian umat Islam dan umat agama lainnya melákukan penyerangan secara membabi buta, tidak hanya kepada instaiasi militer dan kepentingan strategis Amerika Serikat, Israil dan sekutu-sekutunya di Indonesia, akan tetapi juga kepada semua pihak yang dipandang memihak kepada kebijakan Amerika Serikat dan Israil, baik muslim maupun non-muslim, termasuk penyerangan terhadap gereja-gereja di Indonesia sebagai bentuk balasan terhadap tindakan Amerika Serikat dan Israil yang yang menyerang umat Islam di negara-negara muslim lainnya ketika mereka beribadah.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa gerakan radikalis-teroris yang dilakukan oleh sebagian umat beragama di Indonesia akhir-akhir ini, di samping disebabkan oleh situasi politik yang diciptakan oleh dunia Barat terhadap dunia Islam juga disebabkan oleh kesalahan sebagian umat dalam memahami ajaran agamanya seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba` pada 14 abad yang lalu. Pada hal sebagaimana disebutkan sebeluninya, sebagian dari mereka mendapatkan pendidikan formal di institusi pendidikan agama dan berasal dari subangsa timur yang memiliki budaya yang arif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu timbul pertanyaan, bagaimana seharusnya peran pendidikan agama dan budaya lokal dalam membendung gerakan radikalis-teroris?

Peran Pendidikan Agama dan Budaya Lokal dalarn Menanggulangi Gerakan Radikalisme

Salah satu tujuan penyelenggaraan pendidikan, termasuk pendidikan agama yakni mentransformasi nilai-nilai yang dipandang baik dan bersifat universal kepada peserta didik untuk diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. OIeh karena itu, jika penyelenggara pendidikan, termasuk pendidikan agama mampu melakukan transformasi nilai-nilai yang bersifat universal kepada peserta didik, termasuk nilai-nilai yang bersifat universal sebagaimana terdapat dalam ajaran agama dan budaya lokal negeri ini, maka di kemudian hari gerakan radikalisteroris tidak akan muncul dari kalangan umat beragama yang pernah mendapatkan pendidikan formal maupun non-formal dari istitusi pendidikan agama. Sebaliknya, jika penyelenggara pendidikan agama tidak mampu mentransformasi nilai-nilai yang bersifat universal sebagaimana terdapat dalam ajaran agama dan budaya lokal negeri ini kepada peserta didik dengan baik dan komprehensif, maka di kemudian hari, cepat atau lambat, dipastikan akan selalu muncul gerakan radikalisme dari sebagian kalangan umat beragama dan suku bangsa yang ada.

Nilai-nilai universal yang terdapat dalam ajaran agama dan budaya lokal yang harus ditransformasi oleh institusi pendidikan agama kepada peserta didik dalam rangka untuk menanggulangi aksi redikalis-teronis di masa mendatang di antaranya yakni I  kedamaian yang dibawa oleh semua agama, hidup toleransi dalam perbedaan dan inklusifisme yang selanjutnya akan di bahas satu persatu di bawah mi.

Pertama, nilai misi keagamaan yakni semua agama membawa misi kedamaiaan, termasuk agama Islam. Oleh karena itu Islam sebagai suatau agama oleh umatnya harus dipahami sebagai agama damai. Dalam al Qur`an dan Sunnah Nabi ditemukan banyak dalil yang bersifat qat`iyah mengenai larangan berbuat binasa di atas bumi (wala tufsidu flu ardhi), termasuk di dalamnya menumpahkan darah. Adanya larangan menumpahkan darah bagi umat manusia (Islam) tersebut karena Islam sangat menghargai jiwa manusia, bahkan demi menjaga jiwa manusia, dalam perang-pun Allah melalui Nabinya Muhammad s.a.w., membuat aturan dan etika berperang yang harus diamalkan oleh tentara muslim ketika melawan musuh-musuhnya. Sebagai gambaran dan prakteknya sehari-hari dapat dilihat perbuatan dan ucapan khalifah pertama Abu Bakar Siddiq (w. th 13/634 M) ketika melepaskan bala tentara dalam rangka menaklukkan negeri Syria. Beliau berkata; "Kalau kamu memasuki negari itu kamu tidak boleh membunuh orang tua atari anak-anak.... Ciptakanlah perfanjian dengan setiap kota dan rakyatnya yang menerimamu, berilah mereka jaminan, dan biarkanlah mereka hidup sesuai dengan aturan hukum mereka.....Bagi mereka yang tidak menerimamu, kamu harus berjuang berbuatlah kamu dengan hati-hati, sesuai dengan aturan dan hukum yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu melalui Nabinya Muhammad s.a.w.[10]11

Dan ucapan Abu Bakar Siddig di atas terlihat, betapa tingginya harkat dan martabat atau nilai-nilai kemanusian di mata Islam karena tujuan diturunkannya syari`at Islam salah satu di antaranya adalah untuk menjaga jiwa manusia sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surat at Maidah (Q:5:32); ..."Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang au membunuk orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di atas bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menjaga kehidupan manusia seluruhnya".....

Dari ayat di atas dapat dilihat bahwa Islam sangat menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah, diibaratkan oleh Allah membunuh semua manusia di muka bumi mi, dan hukuman bagi si pembunuh (disengaja) jika tidak dimaafkan oleh ahli waris korban adalah qisas. Dari sini dapat dikatakan bahwa menghilangkan nyawa (membunuh) orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah, misalnya melalui aksi radikalis-teroris adalah perbuatan yang diharamkan Allah, karena perbuatan tersebut bertentangan dengan salah satu tujuan diturunkannya syari`at Islam yakni menjagajiwa manusia.

Kedua, sikap toleransi dalam perbedaan dan hidup berdampingan. Semua agama memiliki nilai-nilai toleransi yang harus dijalankan oleh umatnya, baik kepada sesama umat pemeluknya, maupun kepada umat lain yang berasal dari agama yang berbeda saperti misalnya yang terdapat dalam agama Islam. Dalam sejarah Islam diceritakanbahwa Nabi Muhammad s.a.w., sangat bersemangat rnengembangkan dan menyiarkan ajaran Islam di muka bumi ini, dan saking semangatnya Nabi Muhammad s.a.w., berambisi ingin mengislamkan semua manusia yang ada. Namun Allah rupanya tidak menghendaki yang demikian. Kemudian Allah menegur Nabi Muhammad s.a.w., yang dalam keadaan ambisius tersebut dengan menurunkan sebuat ayat ... Jika Aku (Allah) menghendaki umat yang satu, niscaya akan aku (Allah) ciptakan, namun Aku (Allah) tidak menghendaki yang demikian... .Berdasarkán kutipan ayat ini dapat dilihat bahwa perbedaan agama antar umat manusia merupakan kehendak Allah Sang pencipta, dan kita sebagai makhluk-Nya harus menghargai apa yang diciptakan oleh Allah yakni dengan cara hidup bertoleransi antara umat beragama. ini di tegaskan oleh Allah dalam al-Qur`an yang menyatakan ....lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

Nilai-nilai toleransi dalam hidup beragama sebagaimana terdapat dalam ajaran agama Islam di atas, telah diadopsi dengan baik oleh suku Bangsa ini yang kemudian dapat kita lihat secara nyata dalam budaya lokal kita, misalnya rumah ibadah Mesjid dan Gereja berdiri berdekatan atau berdampingan. Bentuk arsitektur Mesjid, terutama Mesjid-Mesjid yang di bagun oleh penyiar agama Islam di Indonesia, merupakan perpaduan antara arsitektur muslim dengan arsitektur agama lain, misalnya perpaduan antara arsitektur Islam dengan arsitektur Hindu seperti yang terdapat di Mesjid Menara Kudus di Kudus, Jawa Tengah, bahkan dengan arsitektur agama Konghucu seperti banyak terdapat di Mesjid-mesjid Indonesia misalnya Mesjid Jamik Air Tiris di Kabupaten Kampar, Riau dan masih banyak Mesjid-mesjid yang lain.

Ketiga, nilai inklusifisme yakni mau bergaul dengan baik dengan semua pihak walaupun berbeda suku dan keyakinan. Inklusifisme ini dimiliki oleh semua agama karena agama-agama di dunia ini tidak akan bisa berkembang dengan baik jika bersifat eklusif. Sebaliknya, agama-agama di dunia ini semuanya bisa berkembang dengan baik, dan dianut oleh banyak orang karena memiliki sifat inklusif, terbuka untuk semua orang, termasuk agama Islam. Nilai-nilai inkusifisme ini, dimiliki oleh semua suku bangsa asli Indonesia tanpa terkecuali dan menjadi budaya yang hidup hingga saat ini. Namun sayangnya, akibat arus globalisasi dan gerakan westernisasi, nilai inklusifisme yang dimiliki oleh semua suku bangsa Indonesia ini, semakin hari semakin berkurang, mengalami degradasi dan dekadensi. Sebaliknya, nilai-nilai eklusifisme dari waktu-kewaktu semakin berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia, terutama yang hidup dan tinggal daerah diperkotaan.

Mentransformasi nilai-nilai universal yang bersumber dari ajaran agama dan budaya lokal di atas, tidak bisa dilakukan oleh institusi pendidikan, termasuk pendidikan agama dalam waktu yang singkat dan cepat, akan tetapi diperlukan waktu yang panjang dan usaha berkesinambungan untuk rnencapai itu semua. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa lembaga pendidikan, termasuk pendidikan agama mempunyai tugas yang amat berat, memerlukan dukungan dan perhatian dari sernua pihak agar gerakan radikalisme dapat ditanggulangi sedini mungkin dengan cara memberikan pemahaman ajaran agama dan nilai-nilai budaya lokal yang arif dan bijaksana cara benar kepada peserta didik.

Oleh karena itu, menjadi suatu hat yang naif sekali jika di negeri ini terdapat institusi pendidikan, apalagi instistusi pendidikan agama yang malah berbuat sebaliknya yakni memberikan permahaman ajaran agama yang keliru kepada peserta didiknya dengan cara menanamkan nilai non-toleransi terhadap perbedaan yang ada serta mengggap lawan semua pihak yang tidak sekeyakinan dengan kelompoknya, sehingga dapat menumbuh-kembangkan sifat radikalisme peserta didik yang akhirnya berujung kepada gerakan teronisme sebagaimana yang sudah banyak terjadi.

Namun demikian, jika tiga nilai yang terdapat dalam ajaran agama dan budaya lokal bangsa Indonesia yang bersifat universal di atas dapat ditransformasi dengan baik oleh institusi pendidikan, termasuk pendidikan agama kepada peserta didik dengan baik dan komprehensif, insyaallah gerakan radiklis-teroris di negeri mi tidak akan muncul lagi di belakang hari atau paling tidak dapat berkurang secara signifikan.

Kesimpulan

Gerakan radikalisme terjadi disebabkan oleh kondisi sosial politik yang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak yang saling membenci yang pada akhirnya membuat seseorang atau sekelompok masyarakat merasakan ketidak-adilan. Namun sayangnya, gerakan radikalis-teroris yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat beragama tersebut dilakukan secara membabi buta, menyebabkan orang-orang yang tidak berdosa menjadi korban, dan naifnya para pelakunya pada umumnya pernah mendapatkan pendidikan formal maupun non-formal di institusi pendidikan agama sehingga sebagian kalangan memandang institusi pendidikan agama sebagai tempat mencetak kaum radikalis-teroris. Agar gerakan radikalis-teroris ini dikemudian hari tidak ada lagi atau paling tidak bisa diminimalisir maka institusi pendidikan agama harus mampu mentransformasi nilai-nilai ajaran agama dan budaya lokal yang bersifat universal kepada peserta didik untuk diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan beragama. Nilai-niiai tersebut di antaranya yakni misi agama yang membawa kedamaian untuk umat manusia, toleransi dalam perbedaan dan inklusifisme, wallahu a `lam.

Bibliografi

B. Hallaq, Wael, (2000), A History of Islamic Legal Theories, (terj), Rajawali Perss, Jakarta.

Khalid Mas`ud, Muhammad (1977), Islamic Legal Philosophy: A Study of Abu Ishaq Al-Shatibi `s Life and Thought, Islamic Reasearch Institute, Islam Abad, Pakistan.

Lacquer, Walter, (1979), The Anatomy of Terrorism, dalam Ten Year of Terrorism, Royal United Services Institute For Defence Studies, London.

Maulani, Z.A., (2002), Islam dan Terorisme: Menguak Paradigma Baru Peta Politik Pasca Tragedi Bali, Makalah tidak diterbitkan.

Mahmuzar, (2002), Perpu Tidak Epektif Bungkam Aksi Terorisme di Indonesia, makalah tidak diterbitkan.

Suseno SJ, Franz Magnis (2002), Agama Islam Digugah? Tantangan Munculnya Kelompok Teroris, Makalah tidak diterbitkan.

Syafii Maarif, Ahmad, (2002), Islam Versus Terorisme, diterbitkan oleh Indonesia Chronicle dengan judul The Islamic View Terrorism, Dec. 2002.

Kompas, Edisi 20 Nopember 2002.

 



[1] Banyak analisis tentang dua kasus mi, pemerintah Amereika Serikat menuduh Al Qaidah yang dipimpin oleh Usama Bin Laden sebagai otak kasus 11 September 2001, namun sampai sekarang Pemerintah Amerika Serikat tidak bisa menunjukkan bukti keterlibatan Al-Qaidah dan Usama Bin Laden. Dari 19 orang tensangka yang ditangkap oleh pihak penyidik Amerika Serikat dan sekutu sekutunya, sebagaimana yang dirilis oleh FBI tidak ada satupun di antara mereka yang berkewarganegaraan afganistan, 15 orang berkebangsaan Saudi Arabia dan 4 orang lainnya warga negara Mesir dan AiJazair. Dengan demikian mengutip pendapat Letjen (Purn) Z.A. Maulani, dapat dikatakan bahwa tuduhan Pemerintah Amerika Serikat terhadap Al Qaidah, Usama bin Laden dan pemerintah Afganistan yang dituduh melindungi aksi terorisme internasional tidak dapat dibenarkan, tetapi tuduhan tersebut hanya sebagai alasan pembenar bagi Amerika Serikat untuk melakukan serangan ke Afganistan dalam rangka menguasai minyak di kawasan Afganistan dan cekungan Kasfia yang diduga menyimpan komuditii minyak sebanyak 30 Trilyun Barel. Z.A. Maulani, Islam dan Terorisme: Menguak Paradigma Baru Peta Politik Pasca Tragedi Bali, hal, 11. Disampaikan path acara Seminar Nasional, IslanI dan Terorisme yang diselenggarakan oleh Fakultas Agarna Islam (FAI) Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) pada tanggal 28 Desember 2002. Lihat Juga Prof. Dr. Ahmad Syafli Maarif, Islam Versun Terarisme, hal 2 yang disampaikan pada forum yang sama. Sedangkan untuk kasus Bali dapat dipertanyakan, bahwa pengakuan para tersangka selama mi meyalahi aturan dan teori yang berlaku dalam kasus terorisme, seorang teroris siap untuk mati ditembak, namun dia tetap tidak akan mengungkapkan siapa kawan-kawannya, tetapi dalam kasus Bali setiap tersangka dengan rnudah menyebutkan kawan-kawannya, bahkan ada yang mengaku bahwa dia adalah pelaku peledakan bom di Sari Club, Legian, Kuta-Bali.

[2] Peristiwa 11 September 2001 membuat 4.000 nyawa manusia melayang dan ribuan orang cedera. Peristiwa peledakan bom di San Club, Legian, Kuta, Bali membuat 192 orang meninggal dunia, 250 orang cedera, 47 rumah hancur dan ratusan kenderaan menjadi rusak berat.

 

[3] AbdulIah bin Saba` adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman yang masuk Islam di Madinah An Nabawiyah.

[4] Walter Lacquer, (1979), The Anatomy of Terrorism, dalam Ten Year of Terrorism, Royal United Services Institute For Defence Studies, London, hlm.

[5] Max Beliof lbid Franz Magnis Suseno SJ, Agama Islam Digugah? Tantangan Munculnya Kelompok Teroris, hal. 6. Makalah disampalkan dalam seminar nasional Islam dan Terorisme yang diadakan oleh Fakultas Agama Islam (FM) Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) pada tanggal 28 De.sember 2002.

[6] Z.A. Maulani, Op. Cit.  Ahmad Syafli Maarif, Op. Cit. Hlm. 34.

[7] Motif di belakang Balfour Declaration tersebut adalah untuk memperkuat posisi Inggris dan sekutu dalam rangka menghadapi tentara Daulah Usmaniyyah yang rnenguasai kawasan Timur Tengah dan Afrika, di mana dalam Perang Dunia I memihak Jerman.

[8] Bahasan yang Iengkap tentang masalah ini lihat Z.A. Maulani, op. cit. hlm. 2-36.

[9] Kompas, Edisi 20 Nopember 2002, hlm. I dan 11.

[10] WaeI B. Hallaq (2000), A History of Islamic Legal Theories, (terj), Rajawali Perss, Jakarta, hlm. 10.



Kolom Guru Lainnya :