DAFTAR HASIL SELEKSI PMB PASCASARJANA GEL. I TA. 2018/2019 [LINK S3] [LINK S2] 

situs ridho1991
Tantangan dan Peluang Dunia Melayu di Asia Tenggara
Narasumber : Prof. Dr. H. Ilyas Husti, MA
Tanggal Posting : 13 Februari 2015
Dikirim oleh : Fajril Anwar Ahda, M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

EMOSI MELAYU

Tantangan dan Peluang Dunia Melayu di Asia Tenggara

Ilyas Husti

Abstract: Recently, the Malay community is often connected to an emotional question that in the Islamic terminology is identified as jihâd (holy war) in its internal and external meanings. The global phenomena like May 13 incident, September 11 attack, invention onIraq, bombing inBali, and different conflicts in various regions are phenomena attributed to emotion. Ironically, the Muslims usually become a "scapegoat" of such events. Malay community in Southeast Asian region, especiallyIndonesia, from day to day undergoes troubles as consequence of collision of civilizations, secularism, modernization, capitalism, revolution, materialism, hedonism, etc. If the Muslims have high quality human index, then all of such troubles can be overcome and Islamic development can be concentrated in Southeast Asian Malay.

Key words: Malay emotion, holy war, and Islam

الملخص: فى هذا العصر المتأخر، المجتمع الملايوى لا يزال مربطا بقضية الانفعال الذى يشبه فى المصطلحات الإسلامية بالجهاد بمعناه الداخلى أو الخارجى. إن الظواهر التى ظهرت فى العالم كحادثة الثالث عشر من مايو و هجوم الحادى عشر من سبتمبر و الحمل على العراق و الانفجار فى بالى و الحروب و النزاعات فى مختلف المناطق كانت ظواهر تنتهى إلى الانفعال. و من الأسف، فإن المسلمين لا يزالوا أن يجعلوا "كبش الفداء" فى تلك الحالة. بينما يكون المجتمع الملايوى فى جنوب شرق آسيا و لا سيما بإندونيسيا منخرطا يوما بعد يوم فى القضايا المتنوعة كعاقبة من تلاكم الحضارات و التجديد و العلمانية و الرأسمالية و الثورة و المادية و التسلية و هلم جرا. فإذا كان للمسلمين كيفية الدلالة الإنسانية العالية فإنهم سيستطيعون حل تلك المشكلات و تركيز تنمية المسلمين بجنوب شرق آسيا.

Pendahuluan

Asia Tenggara dikategorikan sebagian lmuan Barat sebagai kawasan yang tak nyaman dalam konteks sejarah umum Islam, dalam pengertian ini menempatkan kawasan Asia Tenggara dalam kerangka pinggiran. Realitasnya memang Asia Tenggara terletak di tepi dunia muslim dan tidak mempunyai kemantapan tradisi Islam yang berfungsi sebagai titik referensi penting. Bukti-bukti yang ada tentang kedatangan dan perkembangan Islam di kawasan inipun berkeping-keping di antara sejumlah bahasa dan tradisi kebudayaan.

Keadaan ini telah berubah dengan kehadiran negaraMalaysiadanIndonesiadan realisasi kedua negara oleh rakyatnya bersama-sama telah membentuk masyarakat muslim dalam jumlah tersebut di dunia Islam.

Keadaan orang melayu, baik yang bersifat reformis maupun yang tradisionalis dapat diketahui dari aspek pencapaian ekonomi, politik, sosial, budaya, seni, bahasa dan lain-lain. Faktor internal adalah krisis nilai-nilai agama, budaya, moral, lemahnya tingkat ekonomi dan rendahnya tingkat dan mutu pendidikan.

Globalisasi mempunyai titik sentral dalam berbagai agenda intelektual dan politik yang sering menimbulkan pertanyaan-pertanyaan  krusial tentang apa yang oleh orang dipandang fundamental dan dinamis pada saat ini, yakni sebuah epos perubahan yang menentukan secara radikal dapat mentranspormasihubungan lembaga ekonomi dan sosial di abad ke 21.[1]

Globalisasi mengacu pada perluasan dan penguatan arus perdagangan, modal, teknologi, informasi dalam sebuah pasar global. Dari perspektif “globalisasi” proyek-proyek pengembangan kapitalisme (modernisasi, industrialisasi, kolonialisasi dan pembangunan), imprealisme penuh dengan kontradiksi yang membentuk kekuatan oposisi dan resistensi yang dapat merusak akumulasi modal.

Krisis ekonomi yang belakangan melanda Asia Tenggara, khususnyaIndonesiaberakar dari integrasi negara ini ke dalam pasar-pasar keuangan dunia dan gerakan modal internasional yang sangat cepat berubah. Krisis ekonomi ini berdampak kepada krisis politik, moral dan krisis budaya pada orang melayu di kawasan Asia Tenggara.

Islam, Melayu dan Masyarakat Madani

Dalam paradigma sosial politik Islam, ada dua kata kunci yang dapat menghampiri pada konsep Masyarakat Madani, yakni kata “ummah” dan  “Madinah”. Dua kata kunci ini memiliki eksistensi sosial yang dapat dijadikan konsep dasar  dan nilai instrumental bagi terbentuknya masyarakat Islam yang beradab. Kata ummah dapat dirangkai dengan kata “ummah ismayiyah, ummah wasathan, ummah nahdiyyin, ummah muhammadiyah, ummah wahiddin, khaira ummah” yang merupakan pranata yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW setelah ia hijrah ke Madinah.

Dalam pesepektif sejarah, “ummah” yang dibangun oleh Nabi Muhammad dimaksudkan untuk membina solidaritas di kalangan para pemeluk Islam. (kaum Muhajirin dan kaum Anshar). Khususnya bagi kaum Muhajirin konsep “ummah” merupakan sistem sosial alternatif penganti sistem sosial tradisional, sistem kabilah dan kesukuan yang mereka tinggalkan setelah mereka memeluk Islam. Konsep ummah bersifat lintas kesukuan dan kekerabatan  atau nepotisme. Konsep ummah mengundang konotasi sosial daripada politik. Konsep yang sering dipahami sebagai cita-cita sosial politik adalah khalifah, dawlah dan hukumah. Kata khalifah disebut sembilan kali dalam al-Qur’an, tetapi kesemuanya bukan dalam konotasi politik, tetapi dalam misi kehadiran manusia di muka bumi; oleh sebab itu penisbatan kata khalifah dalam kontek politik tidak tepat. Sedang kata dawlah yang banyak dipahami sebagai negara (nation-state) dan dipahami sebagai masyarakat madani perlu dikaji kembali. [2]

Kata ummah disebutkan sebanyak 54 kali dalam al-Qur’an baik dalam bentuk jamak maupun tunggal. Penyebutan al-Qur’an dan Hadits merujuk kepada masyarakat madani. Sebagai masyarakat madaniu, konsep umat Islam ditegaskan atas dasar solidaritas keagamaan dan merupakan manifestasi  moral terhadap eksistensi dan keberlanjutan masyarakat kepada akulturasi nuilai-nilai Islam.

Eksistensi umat Islam tidak bersifat ekslusif, karena Islam merupakan agama universal (rahmatan lil’alamin), oleh sebab itu nilai-nilai Islam harus disosialisasikan bagi kebaikan umat manusia. Prinsip kerahmatan dan kesemestaan ini menuntut adanya upaya universalisasi nilai-nilai Islam untuk menjadi nilai global.

Dalam konstelasi sejarah Islam, konsep “madinah” pernah mendapat eloborasi yang mendalam dari Al-Farabi (w. 950) yang mengajukan teori tentang masyarakat utama (al-madinah al-Fadhilah). Al-Farabi mengambarkan masyarakat  utama tersebut sebagai masyarakat yang terdiri dari perkumpulan manusia yang bertujuaqn untuk menegakkan persatuan  dan kesatuan  sehingga kebahagiaan hakiki dapat terwujud. Dalam kaitan ini AL-Farabi menekankan pentingnya kolektifitas sosial dan etika kolektif dalam mewujudkan nilai akhlak yang tertinggi dan ini adalah tujuan agama.  Gerakan sosial merupakan faktor instrumental  untuk reformasi dan perubahan sosial perlu mengembangkan etika sosial yang berorientasi pada kebahagian universal. [3]

Sementara Ikhwan al-Safa (Persaudaraan suci) menekankan peran dan fungsi politis dari masyarakat. Dalam pandangan kelompok ini, masyarakat utama merupakan tujuan dari sebuah rezim politik, karena politik harus diselenggarakan dengan bermuara pada akhlak. Akhlak adalah merupakan landasan bagi semua politik.

Suatu hal yang perlu dikembangkan dalam pandangan visi Riau 2020 sebagai sumbangan ilmuan agama terhadap dukungan visi ini adalah konsep madinah yang berspektif akhlaq al-karimah. Konsep masyarakat utama baik dalam pandangan Al-Farabi dan Ikwan Al-Safa di atas mengisyaratkan perlunya dua elemen penting yang saling berhubungan timbal balik dalam mewujudkan masyarakat utama. Agama dan pembangunan dalam hal ini adalah hubungan simbiotik. Agama memerlukan pembangunan dan pembangunan memerlukan agama.

Emosi Melayu: Masa Lalu, Hari Ini dan Masa Depan

Kebangkitan orang Melayu digerakkan oleh suatu semanggat  modernis. Gejala ini bukan saja terlihat dari rasa keasingan terhadap pengaruh luar  yang datang dari orang Melayu, tetapi yang lebih penting lagi pada pengaruh yang ditimbulkan oleh kesadaran politik. Langkah awal kebangkitan Islam diperlihatkan oleh para mubaligh muda yang selalu bergerak dari suatu daerah ke daerah lain.

Selama zaman kolonial, ideologi dan partai tidak lebih daripada persaingan untuk meningkatkan kesadaran politik  rakyat, menentukan landasan perjuangan, merumuskan paradigma sistem sosial dan budaya masyarakatnya. Namun di era pasca kolonial ideologi dan partai Islam yang berada dalam konteks mayarakat politik yang majemuk terlibat  dalam persaingan untuk mendapatkan bagian dalam kekuasaan. Dilema ini diperuncing dengan keharusan moral, sebagai partai agama dengan tuntutan political expedience sebagai suatu kekuatan politik. [4]

Sebaliknya, kesinambungan terjadi di Tanah Semenanjung. Pertentangan pendirian konsep Islam sebagai agama resmi dalam konteks politik perkauman menimbulkan situasi konflik seandainya tidak didukung oleh arus bawah. (seperti peristiwa Mei 1969). Namun situasi ini pula yang diduga menyebabkan kedudukan orang melayu/Islam dalam percaturan politik berkelanjutan. Dalam kasus ini Islam tidak sekedar agama landasan ikatan ketaatan, tetapi identitas kaum dan legitimasi kekuasaan. Kekuasaan ini pula yang merupakan simbol kesinambungan cita-cita kemelayuan dalam konteksMalaysiayang terdiri dari berbagai kaum dan bangsa.

Ketegangan dan tindak kekerasan antara kaum muslimin dan non-muslim di Filipina dan Mungthai terus meningkat menambah ketidakstabilan  di kawasan ini serta memperburuk kondisi sosio-politik dan ekonomi.

Hubungan antara sesama negara ASEAN  secara langsung dipengaruhi, karena masing-masing negara mempunyai masalah mayoritas/minoritas yang sangat tidak stabil dan pecahnya kerusakan pada suatu negara akan mempengaruhi negara lain. Komunitas orang Melayu di Asia Tenggara sebagian besar tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai teologi klasik/modren, filsafat, hukum-hukum Islam serta ilmu dan teknologi modren. Bahkan dalam tradisi kehidupannya komunitas muslim di Asia Tengara selalu mencampuradukkan sebagai kepercayaan tahayul (animisme, dinamisme dan polytheisme), hanya sebagian kecil saja yang mempunyai pengetahuan yang mendalam  dan konsisten menjalankan doktrin Islam.

Dalam sudut pandang Islam, hal yang paling  mendasar untuk menyatukan atau menemukan komunitas sosial orang Melayu adalah direkat dengan suatu konsep yang disebut dengan ummah yang mana ideologi iman harus ditanamkan secara mendalam dalam sistem nilai orang Melayu. Semua muslim menjadi ummah Islam yang meliputi.

Islam sebagai perekat komunitas orang Melayu di Asia Tenggara adalah suatau wacana yang harus direspon secara positif. Dalam lintasan sejarah Islam, Islam tidak pernah mencemarkan agama atau bangsa lain. Seluruh agama pada umumnya secara formalitas memiliki perbedaan-perbedaan yang pada hakikatnya ingin menuju ke suatu titik yakni: insan kamil yang memiliki akhlakul karimah.

Setiap agama membawa misi sebagai pembawa kedamaian dan keselarasan hidup, bukan saja antar manusia, tetapi juga antar sesama makhluk Tuhan sebagai penghuni semesta ini. Dalam bahasa al-Qur’an, misi suci itu disebut  rahmat lil ‘alamin. Namun, dalam tataran historisnya, misi agama tidak selalu artikulatif. Selain sebagai alat pemersatu sosial, agama pun menjadi unsur konflik. Bahkan menurut Schimmel, dua unsur itu menyatu dalam agama. Mungkin pernyataan ini agak berlebihan. Tetapi jika melihat perjalanaan sejarah dan realitas di muka bumi ini. Pernyataan itu menemukan historisnya sampai sekarang. Persoalannya, bagaimana realitas itu dapat memicu para pemeluk agama untuk merefleksikan kembali ekspresi keberagamaannya yang sudah sedemikian mentradisi dalam hidup dan kehidupannya.[5]

Berkaitan dengan itu, salah satu yang menjadi problem paling krusial di Asia Tenggara dalam kehidupan beragama ditandai oleh kenyataan pluralisme yang kadang kala menimbulkan konflik antar umat beragama. Fenomena ini perlu ditelusuri apakah fakor  yang substansial yang menyebabkan konflik tersebut.

Perubahan sosial yang terjadi dari dahulu hingga kini seringkali diikuti oleh berbagai konflik yang kadang kala agama dijadikan kambing hitam. Fenomena di lapangan ditemukan munculnya sentimen-sentimen yang dilatar belakangi oleh suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Dalam banyak konflik kekerasan dan kerusuhan, agama acapkali diikutkan dan bahkan telah menjadi salah satu pemicunya. Tak jarang orang melakukan aksi kekerasan atas nama dan membonceng simbol-simbol agama. Apakah agama memiliki andil terhadap merebaknya culture of violence atau konflik itu terjadi disebabkan berbagai kepentingan primordialis dan kesenjangan sosial yang mengatas namakan agama?

Setiap terjadi pertentangan dan konflik antar umat beragama, sering kesulitan mencari akar permasalahanyna. Penyebab utama terjadinya konflik selama ini diasumsikan bukan terletak pada aspek keyakinan ajaran agama, dogma atau doktrin yang menjadi inti satu agama, kadangkala disebabkan oleh pertarungan politik, ekonomi, kesejahteraan sosial dan lain-lain. Perebutan kekuasaan dan pengaruh para elit yang sering mempergunakannya untuk memberi legitimasi konflik dan pertikaian antar umat beragama.

Apabila agama dijadikan alat legitimasi suatu konflik, maka pertikaian akan menjadi seru, karena konflik agama melibatkan emosi umat yang terlibat dengan semangat yang menyala-nyala ingin menghancurkan lawannya. Semangat ingin menghancurkan ini akan semakin meningkat ketika masing-masing pihak yang bersengketa meyakini bahwa perbuatan yang mereka lakukan, baik kalah maupun menang, merupakan perbuatan suci karena membela dan mempertahankan agama yang dianutnya.

Agama selain menjadi unsur pemersatu bagi umat yang menganutnya kepercayaan dan keyakinan yang sama, tetapi dalam waktu yang sama juga menjadi unsur perpecahan antar umat yang berbeda paham dan berlainan agama. Berkaitan dengan asumsi di atas dan melihat pluralisme agama di Asia Tenggara telah pernah terjadi konflik antar agama dan diprediksi mempunyai potensi besar ke arah itu.

Pluralisme agama mesti diterima sebagai kenyataan. Menerima keberagamaan berarti teologi sebagai fungsi kritis agama dibentuk kembali dalam konteks pluralisme tersebut. Bila diakui semua agama berasal dari “Sang Pencipta” yang memberi petunjuk agar manusia selamat dalam hidupnya, maka yang harus ditegaskan bahwa setiap agama memiliki legitimasi untuk mengimplimentasikan kepercayaannya dalam kehidupan konkret. Agama merupakan suatu keluarga besar yang hidup dalam suatu pemukiman, karena itu apa yang terjadi disekitarnya diwaspadai dan diatasi secara bersama. Agar kehidupan beragama dapat harmonis maka diperlukan kerjasama yang transparan, dinamis dan demokratis.

Kerukunan hidup beragama adalah sangat penting mengingat situasi nasional yang sedang berlangsung saat ini adalah situasi yang menjuru pada disintegrasi. Isu kerukunan umat beragama khususnya diIndonesiadan Asia Tenggara pada umumnya belum pernah dilakukan penelitian secara mendalam yang dibahas secara transparan dan tuntas. Keberagaman suku-bangsa, ideologi agama dan sisa-sisa primordialisme adalah menyimpan potensi konflik. Konflik-konflik horizontal maupun vertikal  yang terjadi selama ini diduga adalah ketika puasa dalam hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Kasus di Indonesia pada masa orde baru (1966-1968) segala aspirasi yang berkembang untuk menata hubungan pusat dan daerah agar tercipta hubungan yang adil dianggap tabu dan redam dengan “senjata” SARA (suku, agama dan ras). Orang yang bungkam bukan berarti tidak ada persoalan, hal ini yang disebut dengan fenomena latent, ia ibarat gunung api suatu saat akan mengeluarkan letusan. Isu primordialisme kedaerahan di era otonomi ini mencuat ke permukaan, diikuti dengan isu keagamaan. Di samping itu agama, isu etnosentrik juga muncul, kadangkala isu-isu ini menimbulkan pertumpahan darah. Belum lagi isu pertentangan antara pendatang (migrasi) dan penduduk asli (local people). Yang pertama dianggap mengeruk banyak keuntungan sementara yang terakhir termarjinalisasi. Masalah-masalah inilah yang membuat  atmospir sosial politik semakin memanas. Berbagai konflik yang bernuansa SARA timbul dipermukaan  (manifest).

Dalam konteks antar bangsa, Islam sering di genelisir sebagai teroris misalnya fenomena-fenomena sejagat seperti peristiwa 13 Mei, peristiwa 11 September di Amerika, serangan terhadap Iraq, pengeboman di Bali, konflik Aceh, konflik di Thailand, konflik minoritas muslim di Filipina, konflik Ambon, persoalan umat muslim di Timur Tengah dan Afrika dan peperangan serta konflik di berbagai kawasan adalah suatu gejala yang berpuncak pada suatu emosi. Ironisnya, di balik isu-isu konflik tersebut umat Islam selalu dijadikan “kambing hitam”.

Kegetiran konflik agama pernah digambarkan oleh Lester Kurtz  dalam tulisannya God in Global Village mengatakan:

“religious conflict can be exraordinarily bitter and in often destructive because the parties to the dispute view themselves as representative of supraindivudual claime of fighting not for themselves, but only for a cause which can give the conflict a radicalism and mencilessness. [6]

(Konflik agama dapat terjadi sangat memperihatinkan dan sering mengakibatkan kehancuran karena masing-masing pihak bersengketa memandang diri mereka mewakili pihak yang lebih berhak atas kebenaran, mereka berjuang tidak untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk sesuatu sebab yang menimbulkan konflik disertai  radikalisme dan nestapa)

Pendekatan Barat terhadap semua agama-agama banyak terperangkap ke dalam suatu sistem disiplin keilmuan, sehingga agama kehilangan makna hakiki transendental, (mabda ‘ilahiyah) yang universal dan berakibat terjadinya reduksionalisme terhadap makna agama. Untuk mengembalikan agama ke pusatnya perlu diajukan pendekatan alternatif yang bersifat universal dan transenden.

Pendekatan alternatif tersebut adalah pendekatan perenialis, yakni melihat realitas asal yang transenden telah ada sejak azali dan akan selalu ada selamanya dan manifestasinyadalam sejarah berupa agama, filsafat, sains, seni dan lain-lain. Dengan menggunakan pendekatan perenialis ini pluralitas agama tidak dipandang dari segi bentuk melainkan dilihat dari esensi. Keberadaan pluralitas agama adalah suatu realitas absolut yang menjadi pengikat bersama pada tingkat transenden dari semua agama. [7]

Dalam kaitan ini dapat diperhatikan perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar mengajarkan para ahli kitab untuk menuju ke titik persamaan, yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya (Qs. 3: 64)

Dalam Islam, ajaran untuk hidup  bersama para penganut agama lain dalam suatu komunitas mendapatkan landasan teologis berupa seruan untuk mengajak seluruh umat untuk bersama-sama berpegang pada pokok pangkal kebenaran yang universal yaitu keyakinan terhadap ketuhanan yanga Maha Esa. Keyakinan ini menjadi titik temu, common platform atau common vision bagi semua agama. Al-Qur’an meletakkan kriteria keselamatan bagi pemeluk agama apapun dengan tiga butir kewajiban, yaitu: beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, beriman kepada hari akhir dan beramal saleh.

Dengan demikian dalam persepektif al-Qur’an kerukunan hidup beragama dan kesatuan antar umat beragama mendapatkan landasan teologi yang kokoh, baik secara skriptual maupun secara sosial. Dari sisi ini Islam sebagai agama universal tidak mempunyai keberatan dan hambatan dalam menghadapi pluralitas agama, karena pluralitas itu menjadi sunnatullah yang harus diterima sebagai kenyataan yang tak perlu dihindari.

Dalam konteks kerukunan hidup antar umat beragama ada beberapa hal yang perlu dicermati oleh pemeluk suatu agama: pertama; Ideologi Isolasi,sebagian besar dari teologi dan pengetahuan umat beragama tentang agama dan tradisi lain adalah hasil isolasi. Artinya, sikap dan pandangan yang terbentuk dari sikap memisahkan diri dari tradisi dan agama lain.  Kedua;Ideologi Permusuhan, kalau isolasi sudah runtuh, tak dapat dipertahankan lagi, maka yang berkembang adalah sikap permusuhan. Agama dan tradisi lain dianggap sebagai ancaman. Ketiga; Ideologi Kompetisi, agama diakui mempunyai kebaikan, tetapi yang terbaik tetap agama yang dianutnya, agama-agama lain dianggap lemah. Sikap ini mendorong perasaan superior. Sikap ini juga muncul terhadap komunitas agama serumpun, misalnya NU versus Muhammadiyah, Protestan versus Katolik dan lain-lain. Keempat;Ideologi Kemitraan, ideologi muncul adanya kesadaran terhadap bahaya sekularisme, sehingga agama-agama bersama-sama menghadapi bahya tersebut.[8]

Pluralitas keagamaan mesti diterima sebagai kenyataan. Menerima keberagaman berarti teologi sebagai fungsi kritis agama dibentuk kembali dalam konteks pluralisme tersebut. Bila agama diakui semua berasal dari Allah agar manusia mengenal sumber dan pemberi petunjuk kehidupan maka yang harus ditegaskan ialah bahwa setiap agama mempunyai legitimasi untuk mengimplimentasikan kepercayaannya dalam kehidupan konkret.

Setiap agama hendaknya membangun kemitraan, umat beragama lain adalah mitra di arena perjuangan manusia mengatasi tantangan dan menemukan jalan yang terbaik menapak masa depan. Kepercayaan yang kita anut tidak dapat diukur dan dinilai dengan akal yang terbatas dan dipengaruhi oleh lingkungan, latar belakang, budaya dan tradisi. Inti yang terdalam suatu agama tetap misteri bagi orang lain, ia hanya ditangkap oleh iman. Pada gilirannya iman mendorong untuk mengetahui tentang Tuhan dan mewujudkan semua yang diketahui dan dihayati dalam kehidupan konkret. Dalam mewujudkan kepercayaannya itu kita mesti mempertimbangkan hehadiran orang lain, walaupun berbeda dengan kita. Kerukunan hidup beragama mestinya mendorong terciptanya keadilan, penghormatan hak asasi manusia dan tegaknya supermasi hukum. Segala kegiatan keagamaan yang terarah kepada kerukunan akan sis-sia bila tidak dibarengi tegaknya keadilan. Selama ini agama dijadikan penyejuk kemarahan dan pemadam kebakaran.[9]

Agama atau keberagaman masyarakat ketika berpapasan dengan modernitas tampak tidak dapat menghindari dari benturan-benturan perubahan sosial. Manusia sebagai umat beragama juga harus menghadapi dilema-dilema yang pelik menyangkut benturan antar agama dan perubahan sosial. Mereka yang mempertahankan agama secara ortodok akan terpencil dari interaksi masyarakat global. Bahkan mereka disebut dengan kelompok fundamentalis yang dapat ditafsirkan sebagai kelompok yang kurang fleksibel dalam memandang ajaran agama, sehingga tidak mau menerima realitas konkret dalam perubahan sosial.

Dewasa ini di kawasan Asia Tenggara. Khususnya Indonesiahampir setiap daerah anggota masyarakat terlibat dalam dinamika pluralitas yang kritis yang terlibat dalam kecendrungan sebagai berikut: Pertama; masyarakat majemuk mengidap konflik yang kronis dalam hubungan antar kelompok. Sebab kompromi-kompromi pada platform tertentu sering tercapai, namun pada kenyataannya kompromi tersebut belum menutup kemungkinan konflik. Kedua;pelaku konflik cenderung secara ketegangan dari perspektif  kelompoknya sendiri, sehingga konflik dipandang sebagai perang habis-habisan. Ketiga;proses integrasi sosial ternyata lebih banyak terjadi melalui dominasi suatu ras atau kelompok terhadap kelompok lain. Atau setidak-tidaknya diklaim demikian, sehingga integrasi itu seringkali bersifat heteronom. Artinya, integrasi terjadi bukan karena ketulusan, melainkan karena faktor-faktor ekternal.

Berdasarkan kajian-kajian terdahulu kerusuhan sosial dan konflik yang mengatasnamakan agama, dapat dicari akar masalahnya sebagai berikut:

Pertama;Frustasi sosial, berawal dari berbagai harapan yang mantap dan dianggap mudah diraih, dalam realitasnya justru bertolak belakang, sementara realita mental aktual berada di bawah  potensi masyarakat. Pendekatan refresif oknum penguasa yang telah membudaya hingga tiga dasawarsa ini merupakan pelanggaran hak subsistensi. Faktor ini telah menghilangkan kreativitas warga negara yang berimplikasi terhadap kerusuhan-kerusuhan.

Kedua; lemahnya sistem pengamanan. Skenario kelompok tertentu yang tidak jujur dan usaha balas dendam akan kesulitan dalam menjalankan terornya bila keamanan simbolis dan kritis kepercayaan tidak dapat dipulihkan.

Ketiga; Agama dijalankan sebagai kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan manuver politik, yang menyebabkan posisi agama terseret pada political battle field  yang menjadikan agama sebagai kekuatan yang potensial untuk memicu konflik.

Banyak studi yang dilakukan bahwa terjadinya berbagai emosi yang bernuansa agama, ras, suku dan bangsa serta ideologi tidak didasarkan pada faktor teologis, jarang elemen kemutlakan dan kenisbian dalam agama menjadi bibit konflik tersebut. Emosi tersebut berakar mendalam pada konteks sosial atau agama dibonceng oleh persoalan politik, ekonomi, budaya dan persoalan sosial lainnya.

Kesimpulan

Emosi positif sesama orang Melayu seperti cinta, semangat solidaritas yang kuat, menjujung tinggi nilai budaya Melayu perlu diupayakan untuk terjamin secara berkelanjutan komunitas Melayu yang exist di Kawasan Asia Tenggara.

Adabeberapa faktor yang perlu dicermati sehubungan  terjadinya konflik sosial yang membonceng faktor etnis dalam sebuah negara disebabkan kuatnya tekanan politik melalui isu demokratisasi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup. Isu itu telah berhasil memberi inspirasi berbagai kelompok suku dan agama dalam sebuah negara, terutama dunia ketiga, untuk bangkit menyatakan emosi perlawanan terhadap negara.

Pluralitas kehidupan dimasa depan dapat dipastikan semakin kentara dan kompleks, sebab ia merupakan salah satu ciri kehidupan global. Oleh karenanya intensitas konflik sosial yang bernuansa SARA masa depannya sangat ditentukan oleh bagaimana komunitas Melayu di rantau Asia Tenggara menyikapi potensi kasus-kasus konflik masa kini dan masa depan. Jika penaganannya saat ini berjalan secara terencana dan tuntas, maka konflik tersebut tidak akan mengancam kehidupan orang Melayu untuk masa yang akan datang. Sebaliknya jika penaganannya tidak tuntas dan tidak terencana, boleh jadi menjadi persoalan yang besar.

Perlu juga dicermati pemicu ketegangan (konflik) juga kadangkala dipengaruhi oleh hegomoni negara adikuasa yang menginginkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara terdepedensi terhadap politik global negara adikuasa. Barangkali dapat dikatakan dalam konteks ini globalisasi adalah proyek kapitalisme yang dapat menghegemoni negara-negara berkembang dan terbelakang.

Sedangkan faktor internalnya terletak pada lemahnya nilai-nilai Islam yang tersosialisasi dalam sebagian kawasan Asia Tenggara terutama diIndonesiabagian timur,Filipina,Thailanddan minoritas muslim lainnya. Di samping itu lemahnya tingkat dan mutu pendidikan dan ekonomi di sebagian besar kawasan ini ikut memperbesar lemahnya kompetisi orang Melayu dalam perubahan global.

Semoga persidangan antar bangsa ini dalam mempererat  tali silaturrahmi sesama orang Melayu di kawasan Asia Tenggara serta mampu kompetitif dalam perubahan global.

Catatan Akhir:



[1] Petras dan Veltmeyer, Globalisasi, (Jakarta: Timtamas, 2001), hal. 37

[2] Ismail Raji al-Faruqi, Tawhid :Its Implication for Thought, International Institut of Islamic Thought Pensylvania, 1985, hal. 76

[3] Al-Farabi, dalamAl-Buraey, 1990

[4] Taufik Abdullah, 1995

[5] Zaini Muchtarom, Agama: Dimensi Absolusitas dan Relativitas bagi Persatuan Nasional, Makalah Seminar dan Lokakarya se-Sumatera, (Pekanbaru: Fakultas Ushuluddin IAIN Susqa, 2001), hal. 4

[6] Kurtz.L, Global Villege, (New Yorlk, Princeton, 1995), hal. 53

[7] Muchtarom, Op.Cit., hal. 5

[8] Einar. S,  Kemitraan dan Kerukunan, Makalah Seminar dan Lokakarya  se-Sumatera, (Pekanbaru: Fakultas Ushuluddin IAIN Susqa,  2000), hal  7

[9] Ibid,  hal.  28 

Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 4, No. 1, Januari –Juni 2005



Kolom Guru Lainnya :